Enter Listing ID  
News
22 April 2009
showing 1 of 2 images

Indoproperty mencoba peruntungan dengan menerapkan sistem waralaba. Padahal bila ingin bersaing brand lokal harus memperbaiki kualitas dan skill.

Dominasi broker properti berbendera asing di tanah air hingga saat ini masih sulit tergoyahkan. Meski tidak semua franchise asing tersebut sukses di Indonesia, namun kepakan sayap sebagian besar franchise-franchise yang umumnya berasal dari Amerika Serikat dan Australia begitu cepat mengembang. Ini bisa kita lihat dari nama-nama broker yang cukup populer di Indonesia, seperti Ray White Indonesia, ERA Indonesia, Century 21 Indonesia, dan LJ Hooker Indonesia, yang hingga saat ini mampu menguasai pasar franchise agen properti.

Berbekal pengalaman serta jaringan yang luas membuat agen properti dengan brand asing, punya daya tarik buat investor lokal. Tak heran kalau di kawasan-kawasan yang pertumbuhan propertinya tinggi, seperti Kelapa Gading, Serpong dan Cibubur dipenuhi kantor-kantor broker profesional. Di luar Jawa pun, broker asing tidak kalah berkibarnya, seperti di Makassar dan Bali. Diperkirakan, lebih dari 80 persen market share industri properti sekunder dikuasai broker bermerek asing tersebut.

Bila franchise broker asing berkibar di negeri ini, bagaimana dengan nasib franchise broker lokal. Akankah nasibnya tidak sebaik franchise broker asing. Selama ini brand lokal bukannya tidak pernah dipasarkan dengan sistem waralaba. Pernah beberapa brand lokal seperti Homes 21, Etika Realty dan lainnya mencoba meramaikan sistem waralaba perusahaan broker properti. Hanya saja makelar asing sudah terlanjur menguasai pasar. Sehingga agen properti berbendera lokal sulit bersaing. Walaupun demikian, beberapa broker lokal mampu eksis dan mampu menawarkan sistem franchise, di tengah kepungan franchise asing. 

Salah Satunya adalah Indoproperty Real Estate. Menurut Hary Jap, President Director Indoproperty Real Estate, sudah saatnya pihaknya melahirkan, memimpin dan berfikir strategis mengenai industri yang sangat padat ‘local content’ ini. Hary optimis mampu membawa Indoproperty menjadi agen properti yang kompetitif. Ia menambahkan sudah saatnya industri ini dipimpin oleh perusahaan asli Indonesia yang di’nahkodai’ oleh orang Indonesia yang memiliki kemampuan berfikir global. “Berangkat dari visi dan pemikiran tersebut, maka sistem-sistem yang sudah berjalan mulai dibakukan sebagai sistem waralaba, yang diperkenalkan kepada masyarakat sejak Agustus 2008 lalu,” kata  Hary, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) DKI Jakarta.  

Respon Positif
Hadirnya Indoproperty sebagai merek lokal yang memakai sistem waralaba, ternyata mendapat respon positif dari kalangan pengusaha broker properti. “Tahun ini kami targetkan 28 kantor Indoproperty yang akan dioperasikan. Dan untuk tahap awal ini kami akan fokuskan untuk daerah pulau Jawa,” ujar Hary. Sementara itu, pada pertengahan Februari lalu, Indoproperty Real Estate telah melakukan penandatanganan pengoperasian kantor cabang di beberapa wilayah, seperti Bandung, Malang, Pantai Indah Kapuk (PIK), Puri Indah dan Serpong.

Menurut Turbin, Principal Indoproperty Malang, kehadiran franchise lokal ini memang sudah lama dinantikan. Alasan Turbin  lebih memilih franchise lokal sebagai kendaraan bisnis di kota “apel” Malang adalah lebih karena peran dan kelanjutan dari franchise tersebut yang membutuhkan konsep dan dukungan yang berkesinambungan dari kantor pusat. “Banyak sekali franchise Group yang tidak memiliki semangat untuk meng-update kemampuannya alias puas dengan fanatisme brandnya sendiri, tanpa menyadari bahwa mungkin saja sistem yang dibangga-banggakan sudah obsolete dan tidak mendukungnya untuk berkembang lebih jauh,” terang Turbin.

Sementara itu menurut Steven, Principal Indoproperty Puri Indah, adanya brand lokal yang berani menerapkan sistem waralaba merupakan sesuatu yang mengembirakan. Dengan kata lain, brand lokal harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Apapun alasannya, kehadiran brand lokal di tengah kepungan brand asing memang patut didukung.

Bagaimanapun yang lebih tahu pasar dan kultur masyarakat Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Karena itu, mestinya brand lokal bisa menguasai pasar properti sekunder di Indonesia. Hanya saja, hal ini tentu membutuhkan komitmen yang kuat dari franchise. Belajar dari pengalaman, franchise-franchise yang selama ini sukses adalah mereka yang terlibat langsung, mampu memberi nilai tambah, dan lebih kreatif dalam mengelola perusahaanya.

Sementara pengamat properti dari Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Benyamin Ginting mengatakan, kalau alasannya menjual brand itu karena dibutuhkan di pasar, kenapa tidak. Ini sebetulnya bagus. Hanya yang perlu dikhawatirkan jangan sampai si pembeli tidak memperhatikan kualitas dan skill manajemen pengelola brand tersebut.  “Takutnya mereka yang beli hanya karena harga brand lokal lebih murah dibanding brand asing. Ini bahaya,” kata Benyamin.

Persoalan kita sebetulnya bukan pada brand tapi adalah skill. Karena itu, yang terpenting  adalah bagaimana mengedukasi pasar yang benar. Jadi, brand lokal harus bekerja lebih keras lagi, jika ingin sukses seperti brand-brand asing yang nota bene sudah terbukti sukses. Apalagi tidak semua brand asing yang dipasarkan dengan sistem waralaba di Indonesia sukses. Ada juga beberapa yang mati. Hanya saja jika mereka tidak berhasil di sini, orang tidak menyalahkan brandnya, tapi orangnya. Karena diluar mereka sudah terbukti sukses. “Persoalan utama sebenarnya bukan pada brand. Lebih baik agen properti lokal memperbaiki kualitas dan skill agar tetap bisa bersaing dalam memperebutkan kue pasar sekunder,” ujar Benyamin. ZAL HANIF

Foto : 1. INDOPROPERTY REAL ESTATE : Penandatangan franchise Agreement untuk Lima Cabang
          2. FRANCHISE ASING : Masih Menguasai Pasar Indonesia

 

 

 

Total View : 471
 
Kejelian dua pengembang ternama Agung Podomoro Group (APG) dan Agung Sedayu Group (ASG) dalam melebarkan sayap propertinya melahirkan sebuah mal yang diberi nama Mall of Indonesia...
JAKARTA—123 News: Belakangan ini, isu  ramah lingkungan menguat di  dunia. Satu indikasi hal itu yakni keberadaan regulasi pemerintah di berbagai negara yang mengatur banyak hal terkait...
JAKARTA—123 News: Lembaga Pembiayaan PT Ciptadana Multifinance berencana  meluncurkan KPR (kredit pemilikan rumah) berbunga tetap (fixed rate) untuk masa 3 sampai 4 tahun. Untuk itu, kini...
    Content loading in 0.1204 s