Syarat, Hukum dan Contoh Surat Hibah Rumah yang Benar

contoh surat hibah


Baik rumah maupun tanah bisa dibilang adalah dua jenis properti yang sering dihibahkan oleh orang.


Jika kamu berniat menghibahkan sebuah rumah, penting untuk melihat contoh surat hibah rumah yang benar.


Membuat surat perjanjian hibah tentu tidak boleh dilakukan sembarangan. 


Pasalnya, di dalam surat tersebut tercantum berbagai informasi penting terkait rumah, pemberi hibah, serta penerima hibah.


Jika informasi yang tertera pada surat hibah tidak sesuai dengan semestinya, maka ada potensi perjanjian tersebut tidak sah, dan surat pernyataan hibah yang telah dibuat menjadi sia-sia.


Kamu tentu enggak mau dong, hal tersebut sampai terjadi. 


Oleh sebab itu, agar tidak salah dalam membuat surat hibah, berikut contoh surat hibah rumah yang baik dan benar, yang bisa kamu tiru.


Contoh Surat Hibah Rumah Terbaru 2020


Meski format pembuatan surat hibah berbeda-beda, namun poin yang terkandung di dalamnya umumnya sama saja, seperti data diri pemberi hibah, penerima, lokasi rumah, hingga pernyataan penghibah.


Di akhir surat, kedua belah pihak juga memberikan tanda tangannya masing-masing sebagai tanda persetujuan. 


Jika ingin lebih valid, cantumkan juga tanda tangan para saksi ke dalam surat tersebut.


Biar enggak bingung dalam membuat surat hibah, berikut contoh surat hibah rumah terbaru 2020:


contoh surat hibah


Untuk mengantisipasi konflik di masa depan, sertakan pula material Rp6.000 di dalam surat perjanjian hibah rumah tersebut. 


Hal ini dilakukan, agar surat yang telah dibuat lebih kuat dan sah di mata hukum.


Syarat-Syarat Melakukan Hibah Rumah


syarat hibah rumah


Tidak cuma contoh surat hibah rumah, syarat-syarat melakukan hibah juga penting untuk diketahui. 


Sebab, kegiatan tersebut sudah diatur di dalam undang-undang dan wajib diikuti seluruh warga Indonesia.


Salah satu peraturan yang mengatur soal kegiatan hibah adalah Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997. Di dalam peraturan tersebut disebutkan, bahwa:


“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”


Jika dilihat dari peraturan tersebut, maka dapat dipastikan salah satu syarat sah hibah rumah adalah adanya akta dari Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) atau notaris.


Apabila tidak dilakukan dihadapan notaris atau tanpa akta PPAT, bisa dikatakan kegiatan hibah tersebut tidak sah dan surat pernyataan hibah rumah yang telah tidak dapat dipertanggungjawabkan.


Selain syarat di atas, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi sebelum menghibahkan rumah, yakni:

1. Objek/barang yang dihibahkan harus memiliki manfaat bagi penerima hibah.

2. Objek/barang yang dihibahkan harus memiliki bentuk, tidak boleh dalam proses perencanaan.

3. Objek/barang yang dihibahkan tidak terikat perjanjian, seperti gadai, harta gono-gini dan lain-lain.

4. Pemberi dan penerima hibah berusia dewasa sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

5. Proses hibah dan pembuatan surat hibah dilakukan di hadapan notaris.

6. Akta notaris asli akan disimpan oleh notaris yang sudah ditunjuk oleh kedua belah pihak.

7. Proses hibah harus disertai surat persetujuan anak kandung atau ahli waris pemberi hibah.


Hibah Rumah Menurut Hukum Islam


hibah rumah menurut islam


Pada penjabaran di atas kita bisa mengetahui, hukum hibah menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia nyatanya diperbolehkan. 


Lantas, bagaimana dengan hibah menurut pandangan Islam?


Secara umum, proses hibah menurut hukum Islam sebenarnya sah-sah saja. Namun, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan hibah rumah, seperti:

1. Pemberi hibah harus berusia dewasa.

2. Waras dan sadar akan tindakan yang ia lakukan.

3. Hibah boleh dilakukan laki-laki dan juga perempuan.

4. Perkawinan tidak menjadi penghalang seseorang melalukan hibah.

5. Memberi hibah kepada orang yang belum dewasa diperbolehkan, namun proses hibah tersebut harus dilakukan (secara langsung tanpa perantara) di hadapan orang tua yang bersangkutan.

6. Memberi hibah kepada orang yang tidak sehat akal dan pikirannya diperbolehkan, namun proses tersebut harus dilakukan oleh wali yang bersangkutan.

7. Hibah tidak boleh dilakukan kepada orang yang belum lahir.


Hukum Membatalkan Perjanjian Hibah


hukum perjanjian hibah


Terkadang hal buruk bisa saja terjadi, termasuk dalam proses hibah rumah. 


Kita asumsikan saja, ada pihak-pihak terkait yang ingin membatalkan perjanjian hibah secara sepihak, apakah hal ini bisa dilakukan?


Dalam Pasal 1688 KUH-Perdata disebutkan, pembatalan perjanjian hibah harus dilakukan lewat proses pengadilan dan alasan atas pembatalan tersebut karena syarat-syarat hibah yang tidak terpenuhi.


Selain itu, perjanjian hibah juga bisa dibatalkan karena penerima hibah menolak memberikan nafkah kepada pemberi hibah pada saat kondisi ekonomi orang tersebut sedang menurun.


Nah,
di luar kedua alasan tersebut perjanjian hibah rumah tidak bisa dibatalkan. 


Maka dari itu, pikirkan baik-baik sebelum menghibahkan sebuah rumah atau barang lainnya, ya.


Demikian contoh surat hibah rumah, serta syarat dan hukum melakukan hibah yang perlu kamu ketahui. 


Semoga ulasan di atas dapat membantumu memahami proses hibah secara benar.


Selamat mencoba!


Author:
Yuhan Al Khairi

Tambahkan Komentar