Mudah! Begini Cara Menghitung Penyusutan Bangunan

Cara Menghitung Penyusutan Bangunan

 

Bangunan merupakan salah satu jenis aset properti yang menguntungkan dalam dunia investasi.

 

Aset tetap ini bersifat lokalis yang berarti nilainya dipengaruhi oleh faktor lokasi, permintaan, hingga pertumbuhan penduduk.

 

Bangunan (berbentuk apa pun itu) memungkinkan investornya untuk mendapatkan capital gain.

 

Selain itu, bangunan juga bisa mempermudah investor ketika mengajukan pinjaman kepada bank, karena dapat dijadikan agunan.

 

Namun tidak sama seperti tanah, bangunan adalah aktiva atau kekayaan yang nilainya bisa menyusut karena penggunaan.

 

Secara teori bangunan memiliki umur dengan spesifikasi dan kualitas tertentu sehingga bisa menyusut.

 

Umumnya bangunan bisa berumur 20, 30, hingga 40 tahun tergantung kualitas kekokohannya.

 

Oleh karena itu, kami akan berbagi informasi tentang cara menghitung penyusutan bangunan yang perlu diketahui.

 

Tetapi sebelum tiba pada pembahasan tersebut, ada baiknya mengetahui karakteristik bangunan sebagai aset tetap.

 

Bangunan sebagai Aset Tetap

Menghitung Penyusutan Bangunan

 

Aset tetap atau fixed assets merupakan sumber daya atau aktiva yang bersifat permanen.

 

Selain permanen, sumber daya yang termasuk dalam aset tetap (termasuk bangunan) harus bisa diukur dengan jelas.

 

Biasanya aset tetap bisa digunakan dalam waktu yang relatif lama, yaitu lebih dari 12 bulan atau 1 tahun.

 

Tujuan diadakannya aset tetap, yaitu untuk digunakan sendiri, bukan untuk dijual dalam operasi normal entitas.

 

Tetapi meskipun seperti itu kriterianya, bukan berarti bangunan (sebagai aset tetap) tidak bisa dijual ya.

 

Lantas, apa saja faktor yang mempengaruhi penyusutan suatu aktiva? Nah berikut jawabannya.

 

Faktor yang Memengaruhi Penyusutan

cara mudah Menghitung Penyusutan Bangunan

Harga Perolehan

Tahukah kamu, harga perolehan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai penyusutan.

 

Nah, untuk harga perolehan bangunan, tidak hanya dihitung dari biaya pembelian atau pembangunan saja.

 

Namun termasuk biaya lain yang dikeluarkan untuk memiliki bangunan tersebut, misalnya biaya provisi, booking fee dan lain-lain.

 

Nilai Residu

Secara singkat pengertian nilai residu adalah nilai sisa suatu aktiva yang sudah habis umur ekonomisnya.

 

Selain itu, nilai residu juga bisa diartikan sebagai nilai jual kembali suatu aktiva pada akhir masa manfaatnya.

 

Dari dua pengertian itu diketahui bahwa nilai residu tergantung pada umur ekonomis, tetapi tidak semua  fixed assets memiliki nilai ini.

 

Umur Ekonomis

Umur ekonomis adalah perkiraan sampai mana suatu aktiva bisa berkontribusi sebelum mengalami aus.

 

Pada umumnya umur ekonomis aset tetap dibagi menjadi dua, yaitu umur fisik dan umur fungsional.

 

Umur fisik berhubungan dengan kondisi fisik, sedangkan umur fungsional berhubungan dengan kontribusi aset dalam penggunaannya.

 

Cara Menghitung Penyusutan Bangunan

cara mudah Menghitung Penyusutan Bangunan lengkap

 

Cara menghitung penyusutan aset tetap yang sifatnya berwujud seperti bangunan, maka bisa menggunakan metode garis lurus.

 

Metode yang satu ini bisa dibilang paling familiar dan paling sering digunakan oleh masyarakat.

 

Metode garis lurus mendasarkan perhitungannya kepada alokasi fungsi dan waktu penggunaan aset.

 

Contohnya, ada sebuah bangunan gedung perkantoran yang dibangun dengan menghabiskan dana Rp2 miliar.

 

Lalu bangunan tersebut telah digunakan selama 20 tahun, sehingga nilai penyusutannya bisa dihitung dengan cara berikut.

 

Nilai Penyusutan = Nilai Gedung/Masa Manfaat

Nilai Penyusutan = Rp2 miliar/20 tahun

Nilai Penyusutan = Rp100 juta

 

Harus digarisbawahi metode yang satu ini hanya bisa digunakan untuk menghitung penyusutan aktiva yang berwujud.

 

Sementara untuk menghitung penyusutan aktiva yang tidak berwujud, maka bisa menggunakan metode saldo menurun.

 

Apakah Teori Penyusutan Terjadi di Indonesia?

Ya, secara teori bangunan memang memiliki umur dengan spesifikasi dan kualitas tertentu, sehingga bisa mengalami penyusutan nilai.

 

Namun pada praktiknya, teori penyusutan tidak terjadi di Indonesia, bahkan nilai bangunan cenderung naik setiap tahunnya.

 

Lantas, apa saja yang menyebabkan harga bangunan di Indonesia terus meningkat?

 

Inflasi Properti

Bangunan merupakan aset investasi yang secara tidak langsung bisa terkena dampak inflasi.

 

Inflasi terjadi setiap tahunnya dan hal ini memungkinkan terjadinya kenaikan harga produk dan layanan di pasaran.

 

Sehingga, inflasi ini memengaruhi produk turunan bangunan seperti material bangunan (semen, pasir, kayu, dan sebagainya).

 

Kenaikan harga material bangunan ini tentu saja turut mempengaruhi harga bangunan yang dijual.

 

Kelangkaan Tanah

Populasi penduduk Indonesia terus meningkat setiap tahun, akibatnya kebutuhan tempat tinggal juga semakin banyak.

 

Nah, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tidak jarang tanah perkebunan, persawahan, dan lain sebagainya disulap menjadi perumahan.

 

Sehingga tanah pun semakin langka apa lagi di kawasan perkotaan yang penduduknya semakin padat.

 

Persoalan ini jelas memengaruhi harga bangunan terutama di kota besar, bahkan angkanya bisa selangit.

 

Nah, kira-kira dua faktor itulah yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga bangunan di Indonesia.

 

Sebagai akibatnya, teori penyusutan jarang terjadi di tanah air meskipun bangunan sudah berdiri selama bertahun-tahun.

 

Jadi, bagi kamu yang berencana untuk membeli rumah atau apartemen lebih baik membelinya dari sekarang melalui rumah123.com.

 

Semoga informasi ini bermanfaat!

 

 

 

Author:
Miyanti

Tambahkan Komentar