Bali bukan hanya soal pantai dan pura, tetapi juga jejak sejarah yang masih terawat hingga kini.
Salah satu contohnya adalah Puri Agung Peliatan, istana kerajaan yang berada di Ubud, tepatnya Desa Peliatan.
Puri ini dikenal sebagai pusat seni dan budaya, serta simbol eksistensi bangsawan Bali yang masih menjaga tradisi leluhur.
Dengan arsitekturnya yang khas, tempat ini menjadi destinasi menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Meski masih dihuni oleh keluarga kerajaan, beberapa bagian puri dibuka untuk umum dan menarik dikunjungi.

Bagi wisatawan asing, Puri Agung Peliatan dikenal juga dengan sebutan Peliatan Palace.
Dibangun pada abad ke-17, saat itu Ubud masih berupa lahan sepi yang dipenuhi oleh semak belukar dan sawah.
Perkembangannya relatif minim karena terjadi ketegangan antara Puri Agung Peliatan dengan Kerajaan Mengwi.
Namun, memasuki abad ke-18, hubungan antara Peliatan dan Mengwi berangsur membaik.
Banyak penduduk Mengwi mulai menetap di Ubud, sehingga membuatnya menjadi semakin ramai dan maju.
Puri Agung Peliatan kemudian menjadi pusat pemerintahan serta kebudayaan lokal.
Selain itu, ia turut berperan dalam melestarikan seni pertunjukan khas Bali, seperti tari Legong dan Kecak.

Tidak ada biaya tiket masuk bagi pengunjung yang ingin menjelajahi area Puri Agung Peliatan.
Namun, jika ingin menyaksikan pertunjukan tari Legong atau Kecak, maka dikenakan tarif sebesar Rp100.000 per orang.
Tidak ada biaya untuk parkir, sehingga wisatawan boleh datang membawa kendaraan tanpa tiket tambahan.
Jam buka Buka Puri Agung Peliatan dimulai pada pukul 10.00–17.00 WITA setiap hari, kecuali saat Hari Raya Nyepi.
Khusus penonton pertunjukan tari, acara tersebut biasanya dimulai pada pukul 18:00 - 20:00 WITA setiap hari.
Tiket nonton pertunjukan tari Legong atau Kecak dapat dibeli secara langsung atau melalui platfrom perjalanan online.

Puri Agung Peliatan adalah contoh dari arsitektur Bali yang masih menerapkan prinsip asta kosala-kosali.
Setiap bangunan, gerbang, dan ukirannya menunjukkan keteraturan dan simbolisme spiritual yang khas.
Karena itu, di sini kamu bisa melihat bagaimana arsitektur zaman dahulu dibangun dengan filosofi yang menyatu dengan alam.
Seperti disebutkan, tempat ini dikenal sebagai pusat seni pertunjukan seperti tari Legong, Barong, dan Kecak.
Pertunjukan tersebut biasanya digelar pada malam hari di area terbuka dalam puri.
Dengan nuansa kerajaan yang megah dan penuh detail, puri ini menjadi lokasi ideal untuk berfoto.
Banyak wisatawan memanfaatkan halaman, gerbang, dan pelataran puri sebagai latar foto yang estetik.
Namun, tetap perhatikan batas-batas area yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan, ya.
Bagi pasangan yang ingin mengabadikan momen spesial, puri ini juga menerima sesi pemotretan pre-wedding.
Dengan izin sebelumnya, kamu bisa memanfaatkan area puri untuk mendapatkan foto dengan nuansa adat Bali yang kuat.
Di sekitar area puri, banyak pedagang uyang menjual kerajinan tangan seperti ukiran kayu, kain khas Bali, hingga pernak-pernik lain.
Ini bisa menjadi oleh-oleh atau kenang-kenangan setelah kamu mengunjungi situs bersejarah tersebut.
Puri Agung Peliatan berada di Jalan Cok Gede Rai, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali.
Lokasinya ini cukup strategis karena dapat dijangkau dengan mudah dari berbagai area di Pulau Dewata.
Misalnya kamu datang dari pusat Ubud, maka waktu tempuh ke puri tersebut hanya sekitar 7 menit saja.
Bahkan, setelah puas melihat puri, kamu juga bisa bertandang ke Monkey Forest Ubud dengan waktu 15 menit saja.
Jika ingin bersantai dan melihat panorama asri, kamu bisa pergi ke Tegalalang Rice Terrace dalam waktu 30 menit.
Sementara, jika datang dari Bandara Ngurai Rai, perjalanan menuju pura tersebut memakan waktu 1 jam 15 menit.
Demikian ulasan lengkap mengenai Peliatan Palace yang menarik diketahui.
Semoga informasi di atas bermanfaat, ya.
*Cover images: Instagram @dutajog


