Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung di Bandung yang menawarkan petualangan menantang.
Â
Terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Purwakarta, gunung dengan ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan bagian dari sisa letusan Gunung Sunda Purba.
Â
Lokasi gunung ini berdekatan dengan Gunung Tangkuban Perahu.
Â
Meski kurang populer dibandingkan tetangganya, Burangrang menawarkan panorama alam yang memukau, mulai dari hutan pinus yang sejuk hingga pemandangan Kota Bandung dan Situ Lembang dari puncaknya.Â
Â
Gunung ini ramah bagi pendaki pemula sekaligus menantang bagi yang berpengalaman, tergantung jalur yang dipilih.
Â
Simak informasi lengkap mengenai Gunung Burangrang berikut ini.
Â

Â
Gunung Burangrang memiliki pesona alam yang memanjakan mata.Â
Â
Dari puncaknya yang seluas 25 meter persegi, pendaki dapat menikmati pemandangan Kota Bandung, perbukitan hijau, dan Situ Lembang yang eksotis, terutama saat matahari terbit atau terbenam.Â
Â
Vegetasi hutan pinus dan hutan tropis yang rimbun menciptakan suasana sejuk sepanjang perjalanan, diiringi kicauan burung yang menambah ketenangan.Â
Â
Dua air terjun, Curug Cijalu (1.300 mdpl) dan Curug Putri, menjadi daya tarik tambahan.
Â
Kemudian juga ada Curug Cipalasari yang dapat disinggahi apabila melalui jalur Legok Haji.
Â
Puncak gunung ini juga memiliki Tugu Triangulasi setinggi 2,5 meter, spot favorit untuk berfoto.
Â
Selain keindahan alam, Burangrang menyimpan nilai sejarah dan mitos, seperti legenda Sangkuriang yang konon melempar ranting pohon hingga membentuk gunung ini.
Â
Â
Jalur Legok Haji, berlokasi di Desa Nyalindung, Kecamatan Cisarua, adalah rute paling populer karena waktu tempuhnya yang singkat, sekitar 3-4 jam menuju puncak.
Â
Basecamp-nya lengkap dengan fasilitas pendukung, seperti area parkir, warung, toilet, dan musala.Â
Â
Pendakian dimulai dengan hutan pinus yang landai hingga Pos 1, di mana terdapat persimpangan menuju Curug Cipalasari.Â
Â
Tantangan muncul saat menuju Pos 2, dengan medan hutan yang penuh akar dan tanjakan terjal.Â
Â
Beberapa titik dekat puncak bahkan membutuhkan tali webbing karena kemiringan ekstrem.
Â
Jalur ini cocok untuk pendaki yang mencari kombinasi kecepatan dan tantangan.
Â
Â
Jalur Kopassus, dikenal sebagai rute latihan prajurit Kopassus di kawasan Situ Lembang, menawarkan pengalaman yang memacu adrenalin.Â
Â
Pendaki harus mendapatkan izin resmi dari pihak militer karena jalur ini sering digunakan untuk pelatihan.Â
Â
Awal pendakian relatif landai dengan hutan teduh.Â
Â
Namun, semakin mendekati puncak, vegetasi menjadi lebih padat dan curam dengan beberapa titik berbahaya di tepi jurang.Â
Â
Tidak ada pos resmi di sepanjang jalur sehingga pendaki perlu ekstra waspada.Â
Â
Waktu tempuh rata-rata sekitar 3-4 jam.Â
Â
Sebagai catatan, jalur ini kurang direkomendasikan bagi pemula tanpa pemandu.
Â
Â
Jalur Pangheotan, berlokasi di Cikalong Wetan, Kabupaten Purwakarta, adalah rute paling santai tetapi memakan waktu paling lama, sekitar 5 jam.Â
Â
Jalur ini melewati beberapa punggung gunung sehingga membuat perjalanan lebih panjang namun pemandangannya indah.Â
Â
Jalur ini memiliki medan yang landai dan aman bagi pemula, jadi cocok untuk pendaki yang ingin menikmati pendakian tanpa terburu-buru.Â
Â
Namun, karena kurang populer, fasilitas di basecamp lebih terbatas dibandingkan Legok Haji.
Â
Meskipun relatif mudah, persiapan fisik dan logistik tetap diperlukan untuk menikmati jalur ini dengan nyaman.
Â
Â
Harga tiket masuk Gunung Burangrang sangat terjangkau, sekitar Rp15.000 per orang untuk jalur Legok Haji dan Pangheotan.Â
Â
Biaya parkir kendaraan dikenakan Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.Â
Â
Untuk jalur Kopassus, tidak ada biaya tiket, tetapi pendaki wajib mendapat izin dari pihak militer, yang prosesnya bisa memakan waktu.Â
Â
Gunung ini buka 24 jam, memungkinkan pendaki memilih waktu sesuai kebutuhan, baik untuk pendakian tek-tok atau berkemah.
Â
(cover: liputan6)
Â


