Berkunjung ke Riau tak hanya soal menikmati keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga menjelajahi jejak sejarah yang menakjubkan.
Salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi adalah Candi Muara Takus, peninggalan bersejarah yang menjadi saksi kejayaan peradaban Buddha di masa lampau.
Kompleks candi ini memiliki arsitektur yang unik, karena dibangun dari batu bata merah dan batu pasir.
Selain megah secara visual, Candi Muara Takus juga menyimpan nilai spiritual dan budaya yang mendalam.
Penasaran dengan pesonanya? Langsung simak ulasan lengkap seputar Candi Muara Takus di sini!

Candi Muara Takus merupakan situs candi Buddha yang diperkirakan dibangun pada masa berkembangnya agama Hindu dan Buddha di Indonesia.
Meskipun demikian, waktu pasti pembangunannya hingga kini masih menjadi perdebatan.
Sebagian ahli berpendapat bahwa candi ini dibangun pada abad ke-4, sementara yang lain meyakini pembangunannya terjadi pada abad ke-7, ke-9, atau bahkan ke-11.
Namun, banyak yang sepakat bahwa Candi Muara Takus telah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Candi Muara Takus dikenal sebagai candi Buddha tertua di Indonesia, yang dibuktikan dengan adanya stupa, simbol dari Buddha Gautama.
Struktur utama Candi Muara Takus berupa stupa besar berbentuk menara, sebagian besar terbuat dari batu bata merah dan sebagian kecil dari batu pasir kuning.
Di dalam kompleksnya terdapat beberapa bangunan penting seperti Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai, dan Candi Palangka.
Sementara itu, di bagian luar candi juga ditemukan sisa-sisa bangunan dari batu bata yang menunjukkan luasnya area kompleks suci ini.

Candi Mahligai atau yang juga dikenal dengan nama Stupa Mahligai, merupakan bangunan yang kondisinya paling utuh dibandingkan struktur lain di kompleks Candi Muara Takus.
Candi ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian kaki, badan, dan atap.
Memiliki bentuk persegi panjang, Candi Mahligai berukuran sekitar 10,44 meter lebar, 10,6 meter panjang, dan 14 meter tinggi.
Menariknya, bentuk candi ini menyerupai yoni.
Sama halnya dengan Candi Mahligai, Candi Tua juga terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu atap, badan, dan kaki.
Bangunan candi ini memiliki bentuk dasar lingkaran dengan diameter sekitar 7 meter dan tinggi sekitar 2,5 meter.
Sayangnya, bagian atas candi kini sudah mengalami kerusakan, meskipun dulunya juga berbentuk lingkaran.
Bagian candi berikutnya adalah Candi Bungsu.
Bangunan ini dibangun menggunakan batu bata merah sebagai bahan utama.
Candi Bungsu memiliki ukuran sekitar 13,2 meter panjang dan 16,2 meter lebar, dengan bentuk dasar persegi.
Di sisi timur candi, terdapat tangga yang terbuat dari batu putih sehingga keunikan struktur arsitekturnya kian bertambah.
Terletak di sebelah timur Candi Mahligai, Candi Palangka memiliki ukuran sekitar 5,1 meter panjang, 5,7 meter lebar, dan tinggi sekitar 2 meter.
Pada masa lampau, candi ini diduga berfungsi sebagai altar upacara keagamaan atau tempat persembahan dalam ritual keagamaan Buddha.

Candi Muara Takus berlokasi di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau.
Untuk memasuki kawasan situs bersejarah ini, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang.
Apabila membawa kendaraan pribadi, dikenakan biaya parkir tambahan, yaitu Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.
***Header: Ranahriau.com, Disparbud.kamparkab.go.id, Liputan6.com


