Museum Surabaya Siola menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Kota Pahlawan.
Berlokasi di Jalan Tunjungan, museum ini menempati gedung bersejarah yang telah berdiri selama lebih dari 140 tahun.
Gedung Siola dahulu dikenal sebagai Gedung Whiteaway Laidlaw, kini difungsikan sebagai ruang pameran yang menampilkan berbagai koleksi sosial budaya khas Surabaya.
Museum yang diresmikan pada 3 Mei 2015 ini memiliki empat zona utama, yakni zona seniman, transportasi, kesehatan, dan Walikota Surabaya.
Setiap zona menghadirkan benda-benda bersejarah yang menggambarkan perkembangan kota dari masa ke masa.
Tak hanya menjadi tempat belajar sejarah, Museum Surabaya juga menarik perhatian generasi muda dengan berbagai spot foto unik dan tampilan interior yang lebih modern.
Sebagai salah satu bangunan cagar budaya, Museum Surabaya Siola bukan sekadar tempat penyimpanan koleksi antik.
Museum ini menjadi saksi perubahan kota dari era kolonial hingga sekarang, menjadikannya tujuan yang menarik bagi kamu yang ingin mengenal lebih dalam sejarah Surabaya.
Foto banner: @surabaya dan @umee_mf/Instagram

Gedung yang kini menjadi Museum Surabaya Siola memiliki sejarah panjang sejak pertama kali didirikan pada tahun 1877 oleh pengusaha Inggris, Robert Laidlaw.
Awalnya, gedung ini berfungsi sebagai toko serba ada bernama Whiteaway Laidlaw & Co yang menjual berbagai produk kebutuhan sehari-hari.
Pada masa pendudukan Jepang, kepemilikan gedung beralih ke pengusaha Jepang dan diubah fungsinya menjadi toko tas.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, gedung ini sempat digunakan sebagai tempat pertahanan para pejuang Indonesia.
Pada tahun 1960-an, gedung ini berpindah tangan ke pengusaha lokal dan berganti nama menjadi Siola, sebuah akronim dari nama para pemilik baru: Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang.
Siola berkembang menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya saat itu.
Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya pusat perbelanjaan modern lainnya, eksistensi Siola mulai meredup.
Pemerintah Kota Surabaya kemudian mengambil alih gedung ini dan merombaknya menjadi Museum Surabaya.
Peresmian museum dilakukan pada 3 Mei 2015 oleh Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini.
Selain sebagai museum yang menyimpan koleksi sejarah Kota Surabaya, gedung ini juga difungsikan sebagai Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) Pusat Kota Surabaya.
Koleksi Museum Surabaya terdiri dari berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan kota, termasuk arsip pemerintahan, furnitur kuno, piano, trofi, dan berbagai memorabilia lainnya.
Sebagian besar koleksi merupakan sumbangan dari organisasi perangkat daerah dan warga Surabaya.
Museum ini kini berada di bawah pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Surabaya di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya.
Terletak di Jalan Tunjungan Nomor 1-3, museum ini berada di kawasan cagar budaya yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah lainnya.
Lokasinya yang strategis membuat museum ini mudah diakses dari berbagai titik utama di Surabaya, seperti Stasiun Gubeng, Stasiun Pasar Turi, dan Alun-alun Contong.
Baca juga: 8 Taman di Surabaya untuk Melepas Penat
Alamat Museum Surabaya Siola: Jl. Tunjungan No.1, Genteng, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60275.

Museum Surabaya Siola memiliki lebih dari 1.000 koleksi benda bersejarah, menghadirkan gambaran tentang perjalanan Kota Surabaya dari masa ke masa.
Salah satu koleksi yang menonjol adalah foto-foto para Wali Kota Surabaya sejak tahun 1916 hingga sekarang, yang menggambarkan perkembangan kepemimpinan kota ini.
Baca juga: 7 Pantai di Surabaya, dari yang Hits sampai Hidden Gem
Selain itu, museum ini juga menyimpan berbagai benda seni dan budaya khas Jawa Timur, seperti baju adat, wayang, dan replika dapur kuno.
Terdapat pula arsip kependudukan dari era Hindia Belanda sejak tahun 1837, termasuk dokumen berbahasa Belanda yang mencerminkan sejarah administrasi kota.
Beberapa koleksi memorial yang menarik perhatian pengunjung meliputi piano milik Gombloh dan replika biola dari WR. Supratman.

Museum Surabaya juga memiliki berbagai benda kuno, seperti uang zaman dahulu, televisi, dan radio lawas.
Selain itu, alat transportasi ikonik seperti becak, bajaj, bemo, dan angkutan serbaguna lainnya turut dipamerkan untuk memberikan gambaran tentang moda transportasi yang pernah populer di Surabaya.
Pengunjung museum diajak menjelajahi sejarah kota ini dari masa pra-kolonial hingga era modern.
Kisah-kisah sejarah tersebut disajikan melalui berbagai media, termasuk replika relief, foto-foto dokumentasi, benda bersejarah, dan diorama.
Salah satu daya tarik utama adalah presentasi transformasi Surabaya menjadi kota pelabuhan, yang ditampilkan melalui sorotan proyektor.
Spot ini menjadi favorit pengunjung karena memberikan pengalaman visual yang interaktif.
Museum ini juga menampilkan keberagaman budaya masyarakat Surabaya, termasuk kehidupan di Kampung Pecinan, Kampung Arab, dan kawasan-kawasan yang dulu menjadi tempat tinggal orang Eropa.
Di bagian lain, museum ini mengulas sejarah hidup Soekarno yang lahir dan bersekolah di Surabaya, serta peran pentingnya dalam sejarah Indonesia.
Museum Surabaya juga memberikan wawasan mengenai kebijakan dan pembangunan yang telah dilakukan oleh para Wali Kota Surabaya di berbagai periode.
Di bagian akhir, pengunjung diajak melihat visi masa depan Kota Surabaya yang diproyeksikan sebagai kota dengan teknologi canggih, pemerintahan partisipatif, serta keterlibatan anak muda dalam pengambilan keputusan.

Museum Surabaya buka setiap hari pukul 08.00 - 15.00 WIB. Mengunjungi museum ini tidak dikenakan tiket (gratis).


