Museum Lokananta di Surakarta kini menjadi destinasi wisata budaya yang semakin menarik perhatian, terutama setelah melalui proses revitalisasi yang selesai pada 2023.
Sebagai museum yang berfokus pada sejarah musik dan industri rekaman di Indonesia, Lokananta bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga saksi perjalanan panjang musik Indonesia.
Dikenal sebagai studio rekaman pertama dan terbesar di Indonesia, Lokananta Museum memulai perjalanannya sebagai pabrik piringan hitam yang banyak memproduksi rekaman musisi legendaris.
Peran pentingnya dalam industri musik membuatnya dijuluki sebagai "Titik Nol" musik Indonesia.
Kini, setelah mengalami pembaruan, museum ini tidak hanya menarik bagi pecinta musik, tetapi juga bagi pengunjung yang ingin menikmati pengalaman wisata sejarah dengan nuansa estetik dan interaktif.
Sejak dibuka kembali pada 3 Juni 2023, Museum Lokananta Solo hadir dengan konsep yang lebih modern dan mudah diakses oleh masyarakat.
Pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi rekaman bersejarah, alat musik lawas, serta perlengkapan rekaman yang digunakan di masa kejayaannya.
Selain itu, area museum yang memiliki desain menarik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang gemar berfoto.
Berkunjung ke Lokananta Museum Solo memberikan kesempatan untuk melihat langsung perjalanan musik Indonesia dari masa ke masa.
(Foto pada banner di atas: @adiwangsa_/Instagram)
Alamat Museum Lokananta: Jl. A. Yani No.379 A, Kerten, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57143.
Akses ke Museum Lokananta cukup mudah karena berada di jalur utama Kota Solo.
Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, tersedia area parkir yang memadai.
Sementara itu, bagi pengguna transportasi umum, bus Batik Solo Trans bisa menjadi pilihan dengan rute yang melewati area sekitar museum.

Museum Lokananta bukan hanya sekadar galeri yang mengisahkan sejarah musik dan industri rekaman di Indonesia.
Terdapat berbagai area pendukung yang memberikan pengalaman lebih luas bagi pengunjung, mulai dari kuliner hingga ruang terbuka untuk berbagai acara.
Di bagian depan dan belakang Museum Lokananta, terdapat area food and beverages (FnB) yang menyajikan berbagai pilihan makanan dan minuman dari UMKM lokal.
Area ini terbuka untuk umum tanpa memerlukan reservasi, sehingga pengunjung yang tidak memasuki galeri tetap dapat menikmati kuliner di sini.
Tenant FnB beroperasi dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, menjadikannya tempat yang nyaman untuk bersantai setelah menjelajahi museum.
Bagian belakang Museum Lokananta kini difungsikan sebagai Open Space, sebuah area terbuka yang dulunya hanya berupa kebun kosong.
Area ini dapat digunakan oleh masyarakat untuk menggelar berbagai acara, seperti konser, temu komunitas, hingga pertunjukan musik.
Dengan konsep ruang terbuka, Open Space menjadi tempat yang fleksibel untuk berbagai kegiatan budaya dan hiburan.

Di dalam galeri, pengunjung dapat melihat berbagai rekaman musik yang diproduksi oleh Lokananta, mencakup beragam genre seperti gending, keroncong, dan musik tradisional lainnya.
Galeri ini terbagi menjadi sembilan ruang utama, yaitu:
Selain menyajikan informasi sejarah, galeri ini dirancang dengan tampilan modern yang membuatnya menarik untuk berburu foto Instagramable.
Sepanjang kunjungan, pengunjung juga akan ditemani oleh pemandu yang memberikan wawasan lebih mendalam tentang koleksi yang dipamerkan.
Museum Lokananta menyimpan beragam koleksi alat musik tradisional yang sudah jarang ditemukan di era modern, seperti angklung, gong, dan berbagai alat musik klasik lainnya.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat melihat perangkat lawas seperti backplate atau piringan hitam, kaset pita, serta CD yang mencerminkan evolusi industri rekaman dari masa ke masa.
Terdapat sekitar 53.000 keping piringan hitam yang tersimpan di museum ini, menjadikannya salah satu pusat arsip musik terbesar di Indonesia.
Bahkan, Lokananta masih mempertahankan produksi analog dengan memproduksi musik dalam format kaset pita.
Selain koleksi musik, museum ini juga menyimpan berbagai mesin rekaman bersejarah, seperti Mesin Quality Control (1980), Pattern Generator (1980), dan Mesin Pemotong Pita (1980).
Selain itu, Museum Lokananta juga menyediakan ruangan khusus yang menjual compact disc dan kaset hasil alih media dari piringan hitam para musisi legendaris Indonesia, seperti Koes Plus, The Steps, dan Waldjinah.

Museum Lokananta menerapkan sistem reservasi untuk kunjungan ke galeri demi mengatur kapasitas pengunjung.
Proses reservasi dapat dilakukan secara daring melalui akun Instagram resmi @lokanantadoc. Berikut langkah-langkahnya:
Setelah mendapatkan tiket reservasi, pengunjung dapat langsung menuju Museum Lokananta yang berlokasi di Jl. A. Yani No.379 A, Kerten, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Berikut prosedur masuk:
Dengan sistem reservasi ini, pengalaman berkunjung ke Museum Lokananta menjadi lebih tertata dan nyaman bagi setiap pengunjung.
Kunjungan dibagi dalam tiga sesi per hari:
Setiap sesi kunjungan didampingi oleh tour guide
Area Lokananta secara keseluruhan dapat dikunjungi setiap hari dari pukul 10.00 WIB - 22.00 WIB, namun Galeri Lokananta memiliki jam operasional yang terbatas sesuai jadwal di atas.

Lokananta berawal sebagai pabrik piringan hitam pertama di Indonesia, didirikan untuk memenuhi kebutuhan distribusi rekaman Radio Republik Indonesia (RRI).
Pada masa itu, sebelum era digital, rekaman tidak bisa dikirim secara instan seperti sekarang.
Piringan hitam menjadi satu-satunya cara untuk memperbanyak dan menyebarluaskan siaran radio ke seluruh penjuru negeri.
Sebagai pusat produksi rekaman, Lokananta berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan berbagai jenis musik Nusantara, dari gending Jawa hingga keroncong.
Seiring berjalannya waktu, teknologi berubah, tetapi Lokananta tetap mempertahankan nilai historisnya.
Kini, tempat ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan industri rekaman Indonesia, tetapi juga berkembang menjadi museum yang menyimpan koleksi musik berharga dan membuka pintunya bagi pengunjung yang ingin menyelami jejak sejarahnya.


