OK

Pengalaman Take Over KPR ke Bank Syariah (Biaya hingga Keuntungannya)

30 September 2022 · 4 min read · by Shandy Pradana

Pengalaman Take Over KPR ke Bank SyariahFoto: Unsplash

Gilang seorang pria berusia 33 tahun, sedang dipusingkan dengan cicilan KPR yang semakin membengkak.

Di awal tahun 2020, Gilang membeli rumah dengan menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari bank konvensional.

Rumah yang ia beli terletak di pinggiran Kota Bandung, sebuah rumah Tipe 60 dengan harga Rp500 juta.

Mengambil tenor selama 20 tahun, Gilang mendapatkan bunga fixed 2 tahun sebesar 7,5%. Cicilannya berkisar Rp3,2 juta per bulan.

Namun setelah 2 tahun atau saat masa fixed usai, ia dikenakan bunga floating KPR sebesar 12% dengan cicilan Rp4,3 juta per bulan.

Jika dihitung lagi, penambahan cicilannya lumayan tinggi. Kenaikan cicilan ini tidak sebanding dengan gaji Gilang tiap bulan.

Setelah melakukan riset, Gilang akhirnya memutuskan untuk melakukan takeover KPR syariah.

Dengan begitu, ia bisa “mengakali” cicilan KPR yang besar tersebut.

Dari perjalanan inilah Gilang setidaknya menemukan delapan pertanyaan penting, yang menurutnya perlu diajukan oleh masyarakat sebelum melakukan take over KPR syariah.

Apa saja itu? Berikut ulasan lengkapnya.

Bolehkah Melakukan Takeover dari Bank Konvensional ke Bank Syariah?

Boleh saja, karena dalam skema take over KPR dari bank konvensional ke bank syariah, nilai kredit yang diambil alih hanya sisa pokok pinjamannya saja.

Di sisi lain, biaya bunga berjalan dan denda pelunasan dari bank sebelumnya harus ditanggung sendiri oleh nasabah.

Begitu juga dengan masa tenor yang berlaku, di mana bank syariah hanya akan melanjutkan masa tenor yang sudah dijalankan dari bank sebelumnya.

Berapa Biaya Penalti Take Over KPR?

Ada biaya penalti ketika melakukan takeover KPR.

Denda ini dikenakan karena Anda coba “melunasi” kredit sebelum waktu yang ditentukan.

Besaran biaya penalti tersebut pada dasarnya berbeda-beda. Namun rata-rata adalah 1-3% dari sisa agunan pada bank sebelumnya.

Apa Syarat Take Over Rumah ke Bank Syariah?

Syarat Take Over Rumah ke Bank Syariah

Syarat take over tidak berbeda dengan syarat pengajuan KPR di bank. Berikut syarat take over KPR ke bank syariah:

  • KTP pemohon
  • NPWP pemohon
  • Kartu Keluarga pemohon
  • Buku nikah bagi yang sudah menikah
  • SK Pengangkatan Pegawai Tetap
  • Surat Izin Praktik (opsional)
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Rekening koran 3 bulan terakhir
  • Surat pelunasan
  • Sertifikat rumah (dari bank sebelumnya yang bersifat opsional)
  • Izin Mendirikan Bangunan/IMB (opsional)
  • Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terbaru.

Baca juga:
Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional serta Simulasinya

Berapa Dana yang Dibutuhkan untuk Take Over KPR?

Selain biaya penalti, ada biaya lain yang perlu dibayar ketika melakukan take over KPR, seperti biaya appraisal, biaya notaris, asuransi, dan sebagainya.

Maka itu, setidaknya Anda perlu mempersiapkan dana sekitar 3–5% dari sisa pokok pinjaman KPR dari bank sebelumnya.

Apa Saja Keuntungan Take Over KPR?

Apa Saja Keuntungan dari Take Over KPR

Melakukan take over KPR memiliki sejumlah keuntungan.

Salah satunya adalah mengembalikan jenis suku bunga KPR ke awal, alias kembali menjadi fixed rate.

Dengan begitu, Anda akan memiliki biaya cicilan yang lebih murah.

Namun tentu saja, ini bergantung pada produk take over KPR yang ditawarkan oleh bank.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengajukan Takeover KPR?

Sebenarnya, tidak ada patokan waktu “terbaik” untuk mengajukan takeover KPR.

Namun, Anda bisa mengajukan take over menjelang periode masa bunga fixed berakhir.

Bisa juga saat berada di tengah masa floating, dengan pertimbangan biaya cicilan yang semakin bertambah, seperti kasusnya Gilang.

Sebagian orang juga melakukan takeover ketika ada promo dari bank penyedia program take over KPR.

Bagaimana Proses Pengajuan Take Over KPR Syariah?

Bagaimana Proses Pengajuan Takeover KPR

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendatangi bank tempat Anda mengambil KPR, lalu ajukan take over ke bank baru.

Bawa beberapa persyaratan, di mana salah satunya adalah formulir pengajuan dan biaya penalti yang dikenakan oleh bank sebelumnya.

Setelahnya, ada proses administrasi dan audit dari pihak bank baru.

Jika dinyatakan lolos, Anda bisa melakukan akad dengan bank syariah yang Anda tuju.

Baca juga:

Panduan Over Kredit Rumah [Dilengkapi Contoh Surat Perjanjian]

Berapa Lama Proses Takeover KPR?

Biasanya, proses pengecekan dokumen dan audit dari pihak bank bisa memakan waktu sampai 14 hari.

Setelahnya, Anda akan mendapatkan tanggal pelunasan dari bank lama untuk melanjutkan proses take over KPR dengan bank baru.

Biasanya, akad take over kredit dari bank lama ke bank baru dilaksanakan di hari yang sama dengan tanggal pelunasan.

Maka itu, rencana untuk take over KPR harus disiapkan dari awal.

Dengan menyiapkan dokumen dan dana sedini mungkin, Anda akan siap kapanpun ketika akan melakukan take over KPR ke bank lain.

Setelah membaca pengalaman take over KPR ke bank syariah dari Gilang, Anda pasti mulai memiliki bayangan tentang proses take over hingga biayanya, bukan?

Bagi Anda yang tertarik untuk memiliki rumah dengan sistem KPR, bisa langsung cek rekomendasinya di Rumah123, seperti:

Semoga bermanfaat!

 

Author:
Shandy Pradana

Simulasi KPR

Kredit rumah dengan pilihan plafon dan tenor pinjaman sesuai kebutuhan

Simulasi KPR Syariah

Sistem pembiayaan rumah tanpa bunga, sesuai syariat Islam

Bunga KPR Terbaru

Beli properti impian dengan memilih produk KPR terbaik di Rumah123

Bank BTN
Bank BTN
Suku bunga mulai dari3.72
Tenor Max.20 Tahun
Bank BNI
Bank BNI
Suku bunga mulai dari2,76
Tenor Max.30 Tahun
Bank Mandiri
Bank Mandiri
Suku bunga mulai dari3,88
Tenor Max.12 Tahun