Mau Beli Rumah? Cek Dulu Simulasi KPR Syariah Ini!

 

kpr syariah


Dalam pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), tidak sedikit di kalangan masyarakat yang tertarik dengan KPR Syariah. Beberapa menilai jika KPR Syariah lebih aman dibandingkan dengan KPR konvensional. 


Yang dimaksudkan dengan aman sendiri adalah dalam penerapan syariat agama dan juga dari cicilan. 


Masyarakat menilai dengan mengajukan KPR  lewat skema syariah lebih aman karena tidak memakai bunga yang membuat cicilan bisa naik turun setiap bulannya. 


Tapi apa memang benar seperti itu? 


Untuk mengetahui perbedaannya, kita akan membahas KPR syariah secara menyeluruh. 


Mulai dari perbedaan hingga simulasi KPR.  


Semoga penjelasan ini bisa membantu membedakan antara keduanya dan membantu Anda lebih mengenal apa KPR Syariah.


Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional

perbedaan kpr syariah dan konvensional


KPR Syariah dan KPR Konvensional berbeda, mulai dari skema pinjaman hingga besaran cicilan setiap bulannya. 


Pada dasarnya jika kita membandingkan perbedaan antara kedua jenis KPR adalah dari sistem kredit. 


Jika KPR Konvensional menawarkan cicilan dengan bunga, sedangkan KPR Syariah menawarkan cicilan tanpa bunga alias flat.  


Inilah yang membuat banyak orang menganggap jika KPR syariah lebih menguntungkan daripada konvensional. 


Karena memberikan kepastian untuk jumlah cicilan yang dibayarkan setiap bulannya 


Lalu bagaimana bank mendapatkan keuntungan jika tidak dari bank? 


Nah, di skema KPR syariah bank mendapatkan untung dari selisih jual-beli rumah dan kerja sama bagi hasil antara pembeli dan bank.  


Semuanya tergantung dengan akad antara bank dan Anda sebagai kreditur. 


Akad KPR sendiri ada beberapa jenis dan semuanya berbeda satu sama lain. Yang paling umum adalah akad Murabahah (Jual Beli) dan Musyarakah Mutanaqisah (Kepemilikan Bertahap). 


Secara umum ada 4 skema atau istilah dari bank syariah dalam pengajuan KPR. 


Mereka adalah KPR iB Jual Beli (Murabahah), KPR iB Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah), KPR iB Sewa (Ijarah), dan KPR iB Sewa Beli (Ijarah Muntahiya Bittamlik-IMBT). 


Namun seperti yang disebutkan tadi, umumnya bank-bank syariah hanya menyediakan 2 jenis akad saja, yakni KPR iB Jual Beli (Murabahah) dan akad KPR iB Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah).


Lalu apa perbedaan antara keduanya? Kita bahas satu-satu beserta simulasinya.


1. KPR Syariah Akad Murabahah


Murabahah merupakan istilah yang dipakai dalam sistem perbankan syariah, dimana ada perjanjian jual beli antara bank dan juga nasabah. 


Pada akad Murabahah, bank syariah akan membeli barang yang diperlukan oleh nasabah, misalnya rumah. 


Kemudian, menjual rumah tersebut kembali kepada nasabah sebesar harga yang sebenarnya. 


Nah
, di sinilah bank biasanya menambahkan margin keuntungan. 


Dimana selisih nilai yang dibayarkan oleh bank dan juga jumlah yang nasabah bayarkan kepada bank adalah margin keuntungan yang diambil bank. 


Misalnya seperti ini. 


Anda sebagai nasabah ingin membeli rumah seharga Rp500 juta. Anda akan membayar DP sebesar 20 persen atau sebesar Rp100 juta kepada pihak pengembang. 


Sisanya anda meminjam bank dengan skema KPR syariah akad Murabahah. 


Lalu di sini pihak bank akan membeli rumah tersebut dan menjual kepada Anda, ditambah dengan margin keuntungan yang sudah ditetapkan bersama. 


Misalnya setelah negosiasi Anda dan bank sepakat menentukan margin keuntungan bank adalah sebesar 5 persen dengan jangka tenor 15 tahun. 


Maka penghitungannya menjadi seperti dibawah ini:


((harga beli bank x (keuntungan bank x tenor) + harga beli bank) : bulan tenor


((400.000.000 x (5% x 15)) + 400.000.000) : 180 bulan


Total Rp 3.163.200 per bulan


Jadi untuk Anda yang menggunakan KPR Syariah skema Murabahah untuk membeli rumah Rp500 juta dengan Dp 20 persen dan tenor 15 tahun. 


Anda harus membayar Rp3,1 jutaan setiap bulannya, flat tanpa ada kenaikan atau penurunan cicilan. 


2. KPR Syariah Akad Musyarakah Mutanaqisah


Untuk skema yang satu ini berbeda dengan akad Murabahah. 


Akad Musyarakah Mutanaqisah lebih menitikberatkan kepada penawaran kerjasama atau bagi hasil antara nasabah dan pihak bank. 


Anda sebagai nasabah dan pihak bank secara bersama-sama akan membeli rumah yang diinginkan. Biaya harus dibayarkan masing-masing sesuai kesepakatan keduanya. 


Misalnya seperti ini.


Anda dan bank sudah sepakat dalam pembayaran rumah Anda membayar 20 persen dari harga rumah sedangkan pihak bank 80 persen. 


Lalu rumahnya tersebut disewakan kepada Anda. 


Jadi kurang lebih penjelasannya seperti ini.


Karena bank yang mempunyai porsi pembayaran rumah lebih besar untuk sementara hak kepemilikan rumah seakan-akan masih milik bank. 


Karena itulah Anda menempati rumah tersebut dengan status sewa.


Tapi kegiatan sewa rumah tersebut dilakukan untuk melunasi cicilan yang telah dibayarkan oleh bank. Sehingga biaya sewa tersebut sama saja seperti Anda membayar biaya cicilan KPR. 


Untuk simulasinya seperti ini:


Misal Anda membeli rumah dengan harga Rp300 juta. 


Apabila kesepakatannya 20 persen dan 80 persen, maka bank membayar sekitar Rp240 juta. 


Kedua dana Anda dan dana bank dikumpulkan untuk membeli dengan rumah. Lalu rumah tersebut disewakan dengan harga sewa yang disepakati sekitar Rp1,6 juta per bulan. 


Maka selama masa tenor, misalnya 10 tahun, Anda harus membayar biaya sewa Rp1,6 juta per bulan. Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan.


Biasanya pihak bank akan menambah biaya keuntungan bank pada biaya sewa rumah per bulannya. Sehingga, harga sewa tersebut masih bisa bertambah. 


Itulah simulasi KPR syariah dan konvensional. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda yang hendak membeli rumah ya!


Author: Ferry Fadhlurrahman

Tambahkan Komentar