Tentang Pajak Jual Beli Rumah, dari Jenis hingga Cara Menghitungnya

pajak jual beli rumah


Pajak jual beli rumah kadang-kadang membebani pihak penjual dan pembeli pada saat transaksi.


Perasaan terbebani sering kali muncul sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan, pemahaman dan persiapan terkait hal ini.


Jika pihak yang terlibat pada saat transaksi adalah masyarakat awam, maka persoalan seperti di atas semakin sulit dihindari.


Namun apabila sudah dipersiapkan sejak awal atau sebelum transaksi dimulai, tentu akan lain cerita.


Perlu digarisbawahi, besarnya pajak akan berpengaruh pada jumlah uang yang diserahkan oleh pembeli dan diterima oleh penjual.


Oleh karena itu, Panduan rumah123.com ingin mengajak Anda mengenal tentang pajak jual beli rumah agar transaksi lebih lancar.


Mengenal Pajak Jual Beli Rumah


pajak jual beli rumah


Pajak jual beli rumah diterapkan oleh pemerintah dalam rangka mempercepat pelaksanaan program pembangunan.


Selain itu, penerapan pajak bertujuan untuk memberi perlindungan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).


Pada dasarnya pajak jual beli rumah sangat beragam dan nominal yang harus dikeluarkan tergantung nilai transaksinya.


Namun yang perlu diketahui pada saat transaksi jual beli rumah, yaitu sebagai berikut.


Pajak Penjual


Pajak penjual merupakan pajak yang dibebankan kepada penjual, seperti Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi Bangunan (PBB).


Apa itu PPh dan PBB? Berikut penjelasan lebih detail tentang dua pajak yang wajib ditanggung oleh penjual ini.


Pajak Penghasilan (PPh)


PPh merupakan pajak penjualan yang hukumnya wajib ditanggung oleh penjual. Ketentuan tentang PPh ini diatur oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 34 tahun 2016.


PP tersebut mengupas tentang PPh Atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Atas Tanah dan/atau Bangunan Beserta Perubahannya.


Persentase PPh yang harus dikeluarkan oleh penjual, yaitu 2,5% dari harga penjualan rumah.


Nah,
yang perlu dicatat, yaitu PPh wajib dilunasi sebelum Akta Jual Beli (AJB) diterbitkan.


Pajak Bumi Bangunan (PBB)


Selain PPh, pajak lainnya yang hukumnya wajib ditanggung oleh penjual adalah PBB.


PBB merupakan pajak penjualan rumah yang harus sudah lengkap dibayarkan sebelum serah terima kepada pembeli.


Pembayaran PBB sendiri dilakukan satu tahun sekali dengan persentase 0,5% dari Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) dikali Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).


Nah,
untuk rumah dengan nilai jual di bawah Rp1 miliar rupiah dikenakan NJKP sebesar 20%.


Sementara untuk rumah dengan nilai jual lebih dari Rp1 miliar rupiah dibebankan NJKP sebesar 40%.


Pajak Pembeli


Pajak pembeli merupakan pajak yang dibebankan kepada pembeli, di antaranya BPHTB dan PPN.


Lantas apa itu BPHTB dan PPN? Mari simak informasi lebih jelasnya di bawah ini.


Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)


Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.


Pajak diterapkan, karena perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut merupakan sebuah peristiwa hukum.


Awalnya, BPHTB dipungut oleh pemerintah pusat, tetapi sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 ketentuan berubah.


Sejak 1 Januari 2011, BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota.


Besaran tarif pajak yang dibebankan kepada pembeli ini, yaitu 5% dari nilai perolehan objek pajak.


Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


PPN merupakan pajak konsumsi yang dibebankan kepada pembeli secara tidak langsung. 


Pasalnya, penyetoran pajak dilakukan oleh penjual yang bukan penanggung pajak.


Jika membeli rumah dari developer sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), maka PPN yang harus dibayar nilainya 10% dari harga jual.


Sementara jika membeli rumah dari perorangan, maka PPN bisa disetor sendiri langsung ke kantor pajak.


Nah,
dalam pajak ini biasanya sudah termasuk nilai pembelian yang dibayarkan.


Cara Menghitung Pajak Jual Beli Rumah


menghitung pajak rumah


Cara Menghitung Pajak Penghasilan (PPh)


Cara menghitung PPh tidak sulit, perhitungannya bisa dilakukan dengan menggunakan rumus berikut.


Jumlah harga penjualan rumah sama dengan luas tanah X harga tanah per m2 ditambah luas bangunan X  harga bangunan per m2.


Kemudian, jumlah harga penjualan tersebut dikali 5%. Contohnya sebagai berikut.


Diketahui luas tanah 250 m2 dan harga per m2 Rp800 ribu. Lalu, luas bangunan 150 m2 dan harga per m2 Rp700 ribu. 


Maka PPh yang harus dibayarkan oleh penjual rumah, yaitu Rp305 juta rupiah X 5% = Rp.15.250.000.


Cara Menghitung Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)


Sebelum mulai menghitung BPHTB, besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) rumah yang dibeli harus diketahui.


Misalnya, transaksi dilakukan di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang besaran NPOPTKP-nya, yaitu Rp40.000.000,-.


Maka BPHTB-nya adalah jumlah harga penjualan rumah dikurangi NPOPTKP dikali 5%.


Jadi Rp.305.000.000 - Rp.40.000.000 = Rp.265.000.000 X 5% hasilnya Rp.13.250.000.


Cara Menghitung Pajak Bumi Bangunan (PBB)


Diketahui rumah dijual di bawah Rp1 miliar rupiah, tepatnya di angka Rp.305.000.000 sehingga besar NJKP, yaitu 20%.


Sedangkan besar NPOPTKP seperti yang sudah disebutkan di atas, yakni Rp.40.000.000.


Sementara itu, NJOP sama dengan jumlah harga penjualan rumah.


Cara menghitung PBB bisa menggunakan rumus (NJOP - NPOPTKP) X 20% x 0,5%.


Jadi Rp.305.000.000 - Rp.40.000.000 = Rp265.000.000 X 20% X 5% = Rp.265.000.


Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Sementara itu, cara menghitung PPN cukup mudah, yaitu 10% X jumlah harga penjualan rumah.


Maka diketahui PPN yang harus dibayarkan oleh pembeli rumah yaitu Rp.30.500.000.


Nah,
itulah jenis dan cara menghitung pajak jual beli rumah. Semoga informasinya bermanfaat!


Author:
Miyanti

Tambahkan Komentar