OK

9 Cara Ampuh untuk Menciptakan Rumah Hemat Energi

29 September 2022 · 6 min read · by Shandy Pradana

Rumah Hemat Energi

Foto: Biofriendly Planet

Melonjaknya jumlah penduduk di suatu wilayah berdampak pada tingginya kebutuhan akan hunian, khususnya di kawasan perkotaan.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia, di mana bertambahnya jumlah permintaan akan hunian turut meningkatkan penggunaan energi, mulai dari lingkup rumah tangga hingga skala kota.

Tentunya hal ini dapat berakibat buruk pada lingkungan sekitar, sebab menimbulkan efek rumah kaca yang berujung pada peningkatan suhu bumi.

Di tengah pemborosan energi ini, konsep rumah hemat energi hadir sebagai salah satu alternatif upaya mengurangi pemanasan global.

Namun, apa yang dimaksud dengan rumah hemat energi itu?

Merujuk pada definisinya, rumah hemat energi adalah rumah yang dibangun dengan tujuan untuk memanfaatkan sumber daya dari lingkungan sekitar.

Hal ini demi menciptakan hunian yang hemat energi, berkelanjutan, sekaligus memberi kenyamanan bagi pemilik hunian.

Selain merancang dan memakai material khusus untuk membuat rumah ramah lingkungan, ada beberapa cara dan tips yang bisa dilakukan demi mengurangi pemakaian energi sehari-hari.

Selain membuat sirkulasi udara yang baik, berikut cara mudah untuk menciptakan rumah hemat energi.

9 Tips untuk Membuat Rumah Hemat Energi

Memasang Penutup Jendela

Memasang Jendela yang Lebar

Foto: Unsplash

Tirai, gorden, dan kerai pada jendela dapat membuat perbedaan besar pada rumah hemat energi.

Jika diposisikan pada sudut yang tepat, jendela dapat memaksimalkan pencahayaan matahari dan panas alami yang masuk ke dalam rumah.

Menurut data dari Energy Saving Trust, sekitar 18% panas rumah keluar-masuk melalui jendela.

Tentunya hal ini berhubungan erat dengan pertanyaan, mengapa rumah dengan banyak jendela bisa menghemat energi listrik.

Rumah dengan banyak jendela dapat mengurangi penggunaan lampu di siang hari, sekaligus membuat rumah lebih sejuk sehingga tidak perlu menggunakan pendingin ruangan.

Kamu juga dapat memilih penutup jendela yang tepat untuk membantu mengontrol suhu di bagian dalam rumah.

Sekadar tips, kamu juga dapat memakai jendela dengan penutup ganda untuk melindungi rumah dari panas sekaligus suara bising.

Pakai Kaca Toned, Atap Lebar dan Skylight

Skylight Rumah

Foto: Home Design Lover

Mengingat kita tinggal di negara dengan iklim yang cenderung hangat, pemilihan kaca yang tepat dapat membantu menjaga panas yang masuk ke dalam rumah.

Atap yang besar, kanopi jendela, hingga penggunaan secondary skin dapat membantu menghalangi sinar matahari yang masuk.

Selain itu, penggunaan atap skylight juga dapat menjadi pilihan lain untuk menghemat energi.

Ini karena skylight rumah dapat menambah pencahayaan alami ke dalam rumah, sehingga membatasi kebutuhan untuk menyalakan lampu di siang hari.

Jendela yang dipasang di skylight juga dapat membiarkan udara segar masuk ke dalam rumah.

Jika tertarik memiliki rumah dengan fitur serupa, Anda bisa membeli salah satu unit hunian di Clarity House dan Myza BSD City.

Selain skylight, pengaplikasian cross ventilation atau ventilasi silang juga dapat mendinginkan ruangan tanpa harus menyalakan AC.

Bicara soal ventilasi silang, beberapa rumah dijual di Bandung juga memiliki fitur ini, salah duanya Grand Cinunuk dan Puri Lembana.

Gunakan Plafon Minimalis

Gunakan Plafon Minimalis

Foto: Wright Street Design Group

Rumah dengan plafon tinggi mungkin cukup populer akhir-akhir ini.

Namun semakin tinggi plafon, maka semakin banyak pula lampu atau pencahayaan yang diperlukan untuk menerangi ruangan.

Semakin rendah plafon atau langit-langit rumah, maka lampu yang dibutuhkan tidak perlu terlalu banyak.

Kamu bahkan bisa memilih jenis bohlam yang memiliki watt rendah.

Mengingat Indonesia mempunyai iklim tropis, maka desain plafon rumah dengan tinggi antara 2,8–3,5 meter terbilang cukup ideal.

Sekadar informasi, plafon yang tinggi juga dapat memberi sirkulasi udara yang baik ke dalam hunian.

Karena itu, tak heran kalau rumah-rumah yang ada di Sutera Winona Alam Sutera atau Seion Serang masih mengaplikasikan model ini.

Pilih Atap Berwarna Cerah

Pilih Atap Berwarna Gelap

Foto: Houzz

Batu bata ekspos dan atap berwarna gelap akan menarik banyak panas ke dalam rumah.

Maka itu, atap yang berwarna terang dapat menjadi pilihan terbaik untuk rumah hemat energi.

Hal yang sama juga berlaku untuk bagian fasad yang berwarna putih, karena warna cerah dapat memantulkan cahaya matahari.

Untuk memaksimalkan dua hal tersebut, pilihlah rumah yang memiliki model ventilasi baik.

Dengan begitu, kamu akan mendapatkan hunian yang lebih sehat sekaligus mudah beradaptasi terhadap suhu ekstrem.

Beberapa rekomendasi hunian yang memiliki fasad terang dengan sistem ventilasi udara yang baik adalah Leuwi Gajah Residence , Dago Village, dan Hummingbird House BSD.

Baca juga:

Mengenal Green Roof, Inovasi Hunian Ramah Lingkungan

Ciptakan Area Hijau di Sekitar Hunian

Area Hijau di dalam Hunian

Foto: Unsplash

Pepohonan dan tanaman tinggi mungkin menarik karena dapat memberi kesan adem ke dalam hunian.

Namun, tumbuhan yang terlalu tinggi atau lebat dapat menghalangi cahaya alami ke dalam rumah, sehingga membuatnya terlihat gelap.

Paling tidak, kamu dapat menanam tumbuhan yang tidak menghalangi cahaya untuk masuk ke dalam hunian.

Selain menciptakan area hijau, metode ramah lingkungan lain yang bisa dicoba adalah pengomposan dan pengumpulan air hujan.

Air tersebut bisa kamu gunakan untuk menyiram tanaman di kebun, mencuci mobil, serta kegiatan lainnya.

Dengan begitu, kamu dapat menghemat tagihan air bulanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan air kota.

Tingkatkan Kesadaran untuk Menghemat Listrik

Kesadaran untuk Menghemat Listrik

Foto: Unsplash

Sudah menjadi rahasia umum jika mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya, merupakan metode efektif untuk mengurangi penggunaan energi.

Namun, seberapa besar niatmu untuk melakukannya dengan benar?

Sekadar info, lampu LED dapat menghemat sampai 90% penggunaan listrik daripada bola lampu pada umumnya.

Tak hanya menghemat uang untuk tagihan listrik, lampu LED juga lebih tahan lama sehingga dapat digunakan dalam waktu panjang.

Opsi lainnya adalah memilih hunian dengan smart home system, yang dapat menghemat penggunaan listrik dengan sistem otomatis.

Jika tertarik, bisa cek rekomendasi rumah dengan smart home system di Olive Residence dan Synthesis Homes.

Gunakan Air dengan Bijaksana

Gunakan Air dengan Bijaksana

Foto: Unsplash

Biaya pemasangan awal sistem air panas atau water heater tanpa tangki mungkin sedikit mahal, namun alat ini akan membantu menghemat uang seiring berjalannya waktu.

Untuk menciptakan rumah hemat energi, kamu juga dapat mengatur pemanas air di suhu yang tepat agar tidak overheating.

Selain pemanas air, mesin cuci juga dikenal sebagai alat yang sangat menguras energi dan penggunaan air di rumah.

Bahkan, mesin cuci menyumbang 7% dari tagihan energi rumah, lho.

Dengan mencuci pada suhu 30 derajat Celsius, kamu dapat menghemat listrik sebesar 40% lebih banyak selama setahun.

Maksimalkan Sinar Matahari yang Masuk ke Rumah

Maksimalkan Sinar Matahari

Foto: Unsplash

Kulit kita memang tidak boleh terlalu banyak menyerap sinar matahari. Namun, penggunaan sinar matahari yang tepat dapat menghemat penggunaan energi di rumah.

Selain memakai panel surya, ada juga beberapa cara kecil untuk memaksimalkan energi matahari secara lebih bertanggung jawab.

Misalnya dengan mengatur ruangan di dalam rumah, seperti ruang keluarga atau ruang tamu, agar mendapatkan cahaya alami sebanyak mungkin.

Letakkan kursi dan sofa di dekat jendela, sehingga kamu dapat menggunakan cahaya alami untuk beraktivitas.

Dalam hal ini, kamu juga harus memilih desain interior dan dekorasi yang tepat agar ruangan terlihat lebih cerah.

Jika memungkinkan, kamu juga bisa memasang bukaan atau jendela besar pada hunian tersebut.

Terapkan Konsep “Less is More

Minimalisme

Foto: Unsplash

Mungkin gerakan “rumah kecil minimalis” bukan untuk semua orang. 

Pada kenyataannya, rumah kecil nyaman membutuhkan lebih sedikit penerangan, pemanas, dan pendingin ruangan.

Sebaliknya, rumah berukuran besar justru akan membutuhkan lebih banyak energi untuk memanaskan dan mendinginkan ruangan.

Dalam hal ini, konsep minimalis lebih berpihak pada lingkungan.

Keputusan menghemat penggunaan energi memang sepenuhnya di tangan kamu. Namun, penerapan yang setengah-setengah justru akan memberi dampak lebih buruk.

Jadi, pikirkan dulu secara matang, apakah kamu akan menggunakan rumah hemat energi atau tidak.

Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca juga:

Mau Punya Rumah Ramah Lingkungan, Ini 7 Cirinya

 

Author:

Shandy Pradana