OK
logo rumah123
logo rumah123
download-app-hamburgerAdvertise Here
KPR
Panduan

Panduan Memulai Bisnis Homestay, Peluang di Sektor Properti Kawasan Wisata
r123-share-title

Dipublikasikan 06 Juli 2026 · 8 min read · by Yongky Yulius

Ringkasan Artikel:

  • Bisnis homestay merupakan peluang usaha di sektor properti yang cocok dijalankan di kawasan wisata, kota pelajar, maupun kawasan industri dengan memanfaatkan properti yang sudah dimiliki.
  • Agar sukses, pemilik perlu melakukan riset pasar, menyiapkan fasilitas yang nyaman, mengurus legalitas, serta memasarkan homestay melalui platform digital.
  • Jika pengelolaan yang baik dan ada evaluasi secara berkala, bisnis homestay berpotensi memberikan pendapatan yang stabil dan berkembang menjadi investasi jangka panjang.

Bisnis homestay kini menjadi salah satu peluang usaha di sektor properti terutama di kawasan wisata dan kota-kota besar.

Bisnis tersebut relatif lebih terjangkau dibanding membangun hotel.

Selain itu, bisnis homestay juga menawarkan fleksibilitas tinggi bagi pemilik properti yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah atau unit yang tidak terpakai.

Artikel dari Panduan Rumah123 ini membahas secara lengkap apa itu bisnis homestay, langkah-langkah memulainya.

Anda juga bisa mengetahui beberapa tips agar usaha ini bisa berjalan sukses dan berkelanjutan.

Apa Itu Bisnis Homestay?

Homestay adalah jenis akomodasi yang biasanya berupa rumah pribadi atau bagian dari rumah yang disewakan kepada wisatawan atau tamu untuk jangka waktu pendek.

Berbeda dengan hotel, homestay menawarkan suasana yang lebih personal, sering kali lengkap dengan interaksi langsung dengan pemilik atau pengelola.

Bisnis homestay memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah:

  • Modal awal lebih ringan dibanding membangun properti komersial baru.
  • Bisa memanfaatkan rumah, kos, atau bangunan yang sudah ada.
  • Permintaan tinggi di daerah wisata, kota pelajar, dan kawasan industri.
  • Bisa dikelola secara paruh waktu maupun penuh waktu.

Hal Penting yang Harus Diketahui Sebelum Memulai Bisnis Homestay

1. Cek Potensi Pasar dan Kawasan Sekitar

Sebelum membulatkan tekad untuk membuka homestay, Anda mesti melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap potensi wilayah.

Jika kawasan tempat properti berada tidak memiliki daya tarik atau aktivitas pendukung tersebut, potensi okupansi homestay bisa jadi rendah meskipun fasilitas yang ditawarkan sudah baik.

Oleh sebab itu, riset kawasan sebaiknya dilakukan lebih dulu sebelum riset kompetitor atau penentuan harga.

Adapun beberapa jenis kawasan yang umumnya memiliki potensi pasar homestay yang tinggi adalah:

  • Kawasan wisata, seperti daerah pegunungan, pantai, atau kota dengan destinasi wisata populer, di mana wisatawan cenderung mencari akomodasi jangka pendek dengan suasana yang lebih personal dibanding hotel. Di Bali ada kawasan Ubud dan Canggu. Di Bandung ada kawasan Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan. Di Yogyakarta ada kawasan Kaliurang.
  • Kawasan dekat kampus atau pusat pendidikan, yang biasanya ramai dicari oleh mahasiswa baru, orang tua yang berkunjung, atau peserta acara kampus. Di Bandung ada daerah Dipatiukur yang dekat kampus Unpad, Unikom, dan ITHB. Lalu ada juga kawasan Jatinangor yang 
  • Kawasan industri atau perkantoran, yang sering menjadi tujuan pekerja dinas luar kota untuk menginap dalam jangka waktu menengah. Seperti kawasan industri Cikarang.
  • Kawasan dekat pusat event atau MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), yang permintaannya cenderung meningkat saat ada acara besar. Misalnya, ada acara konser dari musisi besar dan ada acara konferensi yang mendatangkan banyak sekali orang.

2. Pahami Karakter Target Tamu

Setelah mengetahui potensi kawasan, penting juga untuk memahami siapa target tamu yang paling banyak berkunjung ke wilayah tersebut, apakah wisatawan keluarga, backpacker, pelaku bisnis, atau mahasiswa?

Karakter tamu ini akan memengaruhi jenis fasilitas, desain interior, hingga strategi harga yang paling sesuai.

Misalnya, backpacker cenderung menyukai kamar dengan fasilitas minim agar harganya terjangkau.

Sementara itu, wisatawan keluarga mementingkan fasilitas yang bisa membuat pasangan dan anak nyaman, misalnya ada water heater dan selimut yang cukup.

3. Perhitungkan Musim dan Fluktuasi Permintaan

Di kawasan wisata, permintaan homestay biasanya tidak stabil sepanjang tahun dan sangat dipengaruhi oleh musim liburan, akhir pekan, atau hari besar.

Calon pebisnis perlu memperhitungkan periode ramai (high season) dan sepi (low season) agar strategi harga dan promosi bisa disesuaikan dan arus kas tetap terjaga.

Pada saat high season, harga sewanya bisa dibuat lebih mahal dari low season.

Jadi, keuntungan dari high season bisa menutupi kekurangan biaya operasional pada masa low season.

4. Pastikan Aksesibilitas Lokasi

Kemudahan akses menuju properti, baik dari jalan utama, transportasi umum, maupun jarak ke pusat aktivitas wisata atau bisnis, juga menjadi pertimbangan penting.

Lokasi yang sulit dijangkau berpotensi menurunkan minat tamu meskipun berada di kawasan dengan potensi pasar yang baik.

Berikutnya, mari ketahui bagaimana cara memulai bisnis homestay.

Ilustrasi homestay di pedesaan

Cara Memulai Bisnis Homestay

1. Riset Pasar dan Pilih Lokasi yang Tepat

Seperti dijelaskan sebelumnya, langkah awal dalam bisnis homestay adalah melakukan riset pasar.

Coba perhatikan lokasi properti, apakah dekat dengan destinasi wisata, kampus, stasiun, atau pusat kota?

Semakin strategis lokasinya, akan sangat memengaruhi tingkat okupansi homestay.

Selain itu, pelajari juga kompetitor di sekitar lokasi, mulai dari harga sewa, fasilitas yang ditawarkan, hingga ulasan tamu di platform pemesanan online.

2. Siapkan Properti dan Fasilitas

Properti yang akan dijadikan homestay perlu disiapkan dengan standar kenyamanan dan kebersihan yang baik.

Semakin baik kualitas fasilitas, semakin besar peluang mendapatkan ulasan positif yang berdampak pada reputasi bisnis.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kamar tidur yang bersih dan nyaman.
  • Kamar mandi dengan air bersih yang lancar.
  • Wi-Fi yang stabil, karena menjadi salah satu fasilitas yang paling dicari tamu.
  • Dapur atau pantry kecil bila memungkinkan.
  • Perabot dan dekorasi yang sederhana namun estetik.

3. Urus Legalitas dan Perizinan

Meski terlihat sederhana, bisnis homestay tetap memerlukan legalitas agar aman secara hukum dan bisa berkembang lebih besar.

Legalitas ini penting terutama jika ke depannya homestay ingin didaftarkan ke platform pemesanan besar atau bekerja sama dengan agen perjalanan.

Urusan legalitas juga penting jika Anda memiliki visi besar, menjadikan bisnis homestay ini menjadi sesuatu besar di kemudian hari.

4. Tentukan Harga Sewa yang Kompetitif

Penentuan harga sewa homestay perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti lokasi, fasilitas, musim liburan, serta harga kompetitor di area yang sama.

Di masa awal, harga yang sedikit lebih rendah dari kompetitor bisa menjadi strategi untuk menarik tamu dan membangun ulasan positif.

Berikut adalah cara menentukan harga sewa homestay:

  • Anda memiliki homestay dengan biaya operasional sekitar Rp3.000.000 per bulan (listrik, air, internet, kebersihan, dan perawatan).
  • Target keuntungan yang diinginkan adalah Rp7.000.000 per bulan, sehingga total pendapatan yang perlu dicapai menjadi Rp10.000.000.
  • Jika rata-rata tingkat hunian diperkirakan 20 malam per bulan, maka harga sewa minimumnya adalah sekitar Rp500.000 per malam (Rp10.000.000 ÷ 20 malam).
  • Setelah itu, bandingkan dengan tarif homestay sejenis di lokasi yang sama agar harga tetap kompetitif. 

5. Manfaatkan Platform Digital untuk Pemasaran

Pemasaran adalah kunci keberhasilan bisnis homestay. Beberapa cara pemasaran yang bisa dilakukan:

  • Daftarkan homestay ke platform pemesanan online populer atau ke situs properti seperti Rumah123 dan 99.co.
  • Manfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk menampilkan foto dan video properti.
  • Gunakan foto profesional agar tampilan homestay lebih menarik di mata calon tamu.
  • Aktifkan fitur ulasan dan rating untuk membangun kepercayaan.

6. Kelola Operasional dengan Baik

Setelah homestay mulai beroperasi, pengelolaan yang konsisten menjadi kunci keberlanjutan bisnis.

Beberapa aspek operasional yang perlu diperhatikan meliputi kebersihan rutin, kecepatan respons terhadap pertanyaan tamu, serta proses check-in dan check-out yang mudah.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan jasa manajemen properti, terutama jika homestay yang dibuatnya memiliki kualitas premium.

7. Evaluasi dan Kembangkan Bisnis

Lakukan evaluasi secara berkala terhadap tingkat hunian, ulasan tamu, dan pemasukan bisnis.

Dari sini, pemilik bisa menentukan apakah perlu menambah unit homestay, meningkatkan fasilitas, atau memperluas pemasaran ke platform baru.

Estimasi Modal Memulai Bisnis Homestay

Modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis homestay sangat bervariasi, tergantung pada kondisi properti yang digunakan. Berikut gambaran umumnya:

  • Jika sudah memiliki rumah atau properti sendiri, modal utama biasanya digunakan untuk renovasi ringan, pembelian perabot, dan perlengkapan kamar.
  • Jika menyewa properti terlebih dahulu, biaya sewa tahunan perlu dimasukkan ke dalam perhitungan modal awal.
  • Biaya tambahan lain meliputi listrik, air, internet, kebersihan, serta biaya pemasaran digital.

Berikut adalah contoh estimasi modal bisnis homestay:

  • Renovasi ringan (cat, perbaikan, dekorasi): sekitar Rp15.000.000
  • Furnitur kamar (tempat tidur, lemari, meja): sekitar Rp20.000.000
  • Perlengkapan kamar dan kamar mandi: sekitar Rp5.000.000
  • Peralatan bersama (TV, kulkas, dispenser, Wi-Fi): sekitar Rp10.000.000
  • Foto profesional dan pemasaran digital: sekitar Rp3.000.000
  • Dana operasional untuk 3 bulan pertama (listrik, air, internet, kebersihan): sekitar Rp12.000.000
  • Total estimasi modal awal: sekitar Rp65.000.000 (jika sudah memiliki properti sendiri).

Apabila Anda belum memiliki properti dan memilih menyewa rumah, tambahkan biaya sewa ke dalam modal awal.

Sebagai contoh, jika biaya sewa rumah mencapai Rp50.000.000 per tahun, maka total modal yang perlu dipersiapkan menjadi sekitar Rp115.000.000.

Besarnya modal dapat berbeda tergantung lokasi, jumlah kamar, kondisi bangunan, dan fasilitas yang ditawarkan.

***

Demikian pembahasan seputar bisnis homestay.

Semoga bisa membantu Anda, investor properti yang hendak mengambil peluang di kawasan wisata.

Bisnis homestay adalah peluang usaha properti yang menjanjikan, terutama bagi mereka yang ingin memulai usaha dengan modal terjangkau namun tetap memiliki potensi keuntungan yang stabil.

Langkah paling penting adalah memulai dari properti yang sudah dimiliki, mempelajari pasar sekitar, dan terus melakukan evaluasi agar homestay semakin diminati oleh wisatawan maupun pelancong.

FAQ

Apa itu bisnis homestay?
Bisnis homestay adalah usaha penyewaan rumah atau sebagian rumah kepada tamu untuk menginap dalam jangka waktu pendek dengan suasana yang lebih personal dibanding hotel.
Berapa modal untuk memulai bisnis homestay?
Jika sudah memiliki properti sendiri, estimasi modal awal sekitar Rp65 juta. Apabila masih harus menyewa properti, total modal akan bertambah sesuai biaya sewa yang berlaku.
Lokasi seperti apa yang cocok untuk bisnis homestay?
Lokasi yang paling potensial untuk bisnis homestay umumnya berada di kawasan wisata, dekat kampus, kawasan industri, atau area yang sering menjadi lokasi penyelenggaraan acara dan kegiatan bisnis.
Bagaimana cara menentukan harga sewa homestay?
Harga sewa sebaiknya dihitung berdasarkan biaya operasional, target keuntungan, tingkat hunian, serta tarif homestay lain di lokasi yang sama agar tetap kompetitif.
Bagaimana cara memasarkan bisnis homestay?
Anda dapat memasarkan homestay melalui platform pemesanan online, media sosial, serta portal properti seperti <a href=”https://www.rumah123.com/”>Rumah123</a>. Gunakan foto berkualitas dan kumpulkan ulasan positif dari tamu untuk meningkatkan kepercayaan calon penyewa.