Ijarah adalah Hukum Sewa Properti Islami. Simak Selengkapnya!

ijarah


Tak hanya kegiatan jual beli properti, kegiatan sewa-menyewa properti pun diatur dalam hukum Islam, yaitu dalam hukum ijarah. 


Sewa menyewa properti, seperti menyewa rumah, apartemen, ruko dan kosan termasuk ke dalam ijarah.


Menyewakan properti memang menjadi salah satu cara berinvestasi bagi pemilik bangunan. 


Sementara bagi pihak penyewa, menyewa properti dapat memenuhi kebutuhan hunian dan komersial sementara.


Ijarah adalah hukum Islam yang mengatur kegiatan sewa-menyewa ini. 


Bagi umat muslim, tentunya semua kegiatan baiknya didasari hukum yang benar. 


Untuk mengenali lebih jauh, rumah123.com merangkum beberapa poin penting untuk menjawab pertanyaan tentang ijarah dalam artikel ini.


Pengertian ijarah


Apa yang dimaksud dengan ijarah? Kata ijarah berasal dari kata bahasa Arab al-Ijarah yang artinya "menyewakan sesuatu" atau "menyediakan jasa dan barang sementara dengan imbalan berupa upah". 


Ijarah adalah istilah dalam fikih (ilmu tentang hukum Islam) dan praktiknya dapat dijumpai dalam sektor perbankan dan keuangan Islami.


Ijarah dalam fikih


Dilihat dari fikih, akad ijarah adalah kontrak untuk menyewa jasa orang atau menyewa properti dalam periode dan harga yang telah ditentukan. 


Pihak penyewa disebut musta'jir sementara pihak yang menyewakan disebut ajir. Ijarah dalam konteks tradisional tidak membuat properti berpindah tangan.


Ijarah dalam sektor keuangan


Dalam dunia perbankan dan sektor keuangan, istilah akad ijarah adalah kontrak sewa properti seperti tanah, rumah, kendaraan bermotor, dan lainnya yang disewakan kepada penyewa yang dibayar dalam serangkaian pembayaran sewa dan pembelian, yang berujung pada perpindahan kepemilikan properti kepada pihak penyewa.


Rukun ijarah


rukun ijarah


Ada 17 rukun ijarah yang berkaitan dengan sewa-menyewa properti yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad Taqi Usmani. Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Akad ijarah adalah kontrak dimana pemilik suatu properti atau jasa mentransfer hak untuk menikmati hasil dari pemanfaatan jasa atau propertinya kepada orang lain untuk jangka waktu yang disepakati, dengan pertimbangan yang disepakati.


2. Subjek sewa harus memiliki kegunaan yang berharga. Karenanya, barang-barang yang tidak membuahkan hasil sama sekali tidak dapat disewakan.


3. Untuk kontrak sewa ijarah yang sah, selama masa sewanya properti tetap menjadi milik yang menyewakan, dan hanya hasil pemanfaatannya saja yang dipindahkan kepada pihak penyewa. Karenanya, barang yang habis digunakan tidak bisa disewakan secara ijarah. Contohnya, Anda tidak bisa menyewakan bahan bakar, uang, dsb.


4. Karena properti sewaan ijarah tetap menjadi milik pihak yang menyewakan, semua kewajiban yang timbul dari kepemilikan akan ditanggung oleh pihak yang menyewakan, tetapi kewajiban yang terkait dengan penggunaan properti ditanggung oleh penyewa.


5. Jangka waktu ijarah harus ditentukan dengan jelas.


6. Penyewa tidak dapat menggunakan aset sewaan ijarah untuk tujuan apa pun selain tujuan yang ditentukan dalam perjanjian sewa. Jika tujuan seperti itu tidak ditentukan dalam perjanjian, penyewa dapat menggunakan properti sewa untuk tujuan apa pun itu selama dimanfaatkan secara wajar.


7. Penyewa berkewajiban untuk memberikan kompensasi kepada pihak yang menyewakan atas setiap kerugian pada aset sewaan yang disebabkan oleh penyalahgunaan atau kelalaian dari pihak penyewa.

ijarah

8. Risiko yang berkenaan dengan aset sewaan akan tetap menjadi tanggungan pihak yang menyewakan selama periode sewa.  Dalam artian bahwa setiap kerugian atau kerusakan yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar kendali penyewa akan ditanggung oleh pihak yang menyewakan.


9. Dalam ijarah, properti yang dimiliki bersama oleh dua orang atau lebih dapat disewakan, dan pendapatan dari sewa tersebut akan dibagikan kepada semua pemilik sesuai dengan proporsi kepemilikan masing-masing dalam properti tersebut.


10. Pemilik bersama dari suatu properti dapat menyewakan bagiannya hanya kepada sesama pemilik properti tersebut, tidak kepada orang lain.


11. Untuk proses sewa yang valid, aset yang disewakan dalam ijarah harus sepenuhnya diketahui dan diakui oleh semua pihak yang terkait.


12. Biaya sewa harus ditentukan pada saat pengesahan kontrak untuk keseluruhan periode sewa. Biayanya boleh berbeda-beda berdasarkan periode waktu tertentu, asalkan disebutkan pada saat pengesahan kontrak dan disetujui semua pihak.


13. Penentuan biaya sewa atas dasar biaya agregat yang dibayarkan dalam pembelian aset oleh pihak yang menyewakan tidak bertentangan dengan aturan hukum syariah, jika kedua belah pihak menyetujuinya, asalkan semua kondisi lain dari sewa yang sah yang ditentukan oleh hukum syariah sepenuhnya ditaati.


14. Dalam ijarah, pihak yang menyewakan tidak dapat menaikkan biaya sewa secara sepihak, dan kesepakatan apapun yang mengakibatkan hal yang sama tidak berlaku.


15. Biaya sewa atau bagiannya dapat dibayar di muka sebelum penyerahan aset kepada penyewa, tetapi biaya yang dibayar terlebih dahulu tersebut tetap disimpan oleh pihak yang menyewakan dan harus disesuaikan dengan sewa setelah jatuh tempo.


16. Jangka waktu sewa dimulai sejak tanggal penyerahan aset sewaan kepada penyewa, baik penyewa sudah mulai menggunakannya atau belum.


17. Dalam ijarah, jika aset yang disewakan telah kehilangan fungsinya secara total, dan tidak ada perbaikan yang memungkinkan, sewa akan berakhir pada hari ketika kerugian tersebut terjadi.


Jenis ijarah


jenis ijarah


Ijarah terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:


Ijarah thumma al bai'


Dalam ijarah jenis ini, penyewa menyewa barang dan setuju untuk membelinya, membayar dengan mencicil sehingga pada akhir masa sewa, barang itu menjadi hak milik.


Ijarah wa-iqtina atau al-ijarah muntahia bittamleek


Mirip dengan ijarah thumma al bai, ijarah jenis ini bisa mencakup kontrak sewa dan juga kontrak jual. 


Bedanya, dalam ijarah wa iqtina, transfer kepemilikan terjadi kapan pun penyewa berhasil melunasi harga beli dari aset tersebut selama periode sewa.


Ijarah mawsufa bi al dhimma


Dalam ijarah mawsufa bi al dhimma, keuntungan atau jasa yang disewakan diterangkan dengan jelas, namun properti yang menghasilkan manfaat dan kegunaan tersebut tidak diterangkan dengan jelas.


Karenanya, jika properti yang menghasilkan kegunaan itu rusak atau hancur, kontrak tetap berjalan. 


Contoh dari ijarah mawsufa bi al dhimma adalah sewa rumah dan sewa ruko yang belum dibangun.


Konsep ijarah dalam properti


Konsep hukum sewa ijarah dalam bidang properti di Indonesia dapat kita lihat dalam Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama KPR Syariah


Pengaju KPR menyicil pembayaran rumah dalam serangkaian cicilan dalam periode tertentu dan menempati rumah yang dicicil tersebut (dalam artian menyewa rumahnya) lalu berujung pada kepemilikan rumah tersebut ketika proses cicilan selesai.


Nah
, itulah informasi mendetail seputar akad ijarah dan jawaban-jawaban dari pertanyaan tentang ijarah. 


Semoga dengan info ini, Anda dapat lebih paham dalam menjalankan praktik sewa-menyewa sesuai hukum Islam.


Kunjungi rumah123.com dan temukan rumah idaman Anda dengan lebih mudah!


Author:
Imam

Tambahkan Komentar