OK
logo rumah123
logo rumah123
download-app-hamburgerAdvertise Here
KPR
Panduan

Inflasi Nasional Naik 4,76%, Harga Rumah Sekunder Justru 'Diskon' pada Awal 2026
r123-share-title

Dipublikasikan 11 Maret 2026 · 3 min read · by Ilham Budhiman

harga rumah sekunder

Harga rumah sekunder tercatat turun pada Februari di tengah kenaikan inflasi sebesar 4,76 persen.

Berdasarkan laporan Flash Report Maret 2026 by Rumah123, harga rumah sekunder nasional pada Februari 2026 koreksi sebesar 1,2 persen secara month-on-month (MoM) dan turun 0,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kesenjangan sebesar 4,4 persen antara inflasi dan indeks harga rumah (RPI) menciptakan anomali pasar.

Dalam kondisi ini, properti menjadi aset yang relatif lebih terjangkau di tengah kenaikan biaya hidup, namun semakin sulit ditemukan akibat kelangkaan pasokan.

Pertumbuhan Harga Properti di Sejumlah Wilayah

 Harga Rumah Sekunder

Gambar header: Unsplash/Jakub Żerdzicki

Meskipun indeks nasional terkontraksi, dinamika di tingkat kota menunjukkan fragmentasi yang tajam.

Medan mencatatkan kenaikan harga tahunan tertinggi sebesar 5,5 persen, melampaui destinasi investasi favorit sebelumnya seperti Denpasar dan Yogyakarta.

Sebaliknya, Yogyakarta yang sepanjang 2025 mencatatkan pertumbuhan dua digit akibat dampak pembangunan infrastruktur tol kini mengalami kontraksi harga sebesar 2,5 persen pada Februari 2026.

Kondisi ini menandakan pasar di wilayah tersebut sedang mencari titik keseimbangan baru setelah periode overheating.

“Lonjakan harga pada area regional mencerminkan pergeseran permintaan ke arah hunian yang lebih efisien dan terjangkau secara harga total (lump sum), namun memiliki nilai strategis tinggi. Ini adalah indikator kuat bahwa first-time buyers dan investor mikro masih sangat aktif,” ujar Head of Research Rumah123, Marisa Jaya.

Penurunan Pasokan

Salah satu poin paling krusial pada Februari 2026 adalah penurunan volume suplai yang mencapai 7,8% secara tahunan (YoY).

Penurunan suplai di tengah koreksi harga tipis mengindikasikan adanya fenomena market resistance, di mana pemilik properti memilih untuk menahan aset (hold) daripada menjual di harga yang dianggap belum optimal.

“Penurunan suplai ini adalah sinyal penting bagi pasar. Jika suplai terus menyusut sementara minat pencarian tetap stabil,  seperti di Tangerang (14,8%) dan Jakarta Selatan (12,4%), maka kita kemungkinan besar sedang mendekati fase bottoming out,” kata Marisa.

Adapun, ketika suku bunga Bank Indonesia di level 4,75 persen mulai tertransmisi penuh ke bunga KPR, kata dia, potensi rebound pasar bisa terjadi lebih cepat.

Baca juga:

Cara Cari Rumah Murah di Jakarta dengan Mudah Pakai Fitur Rumah123 Peta Harga Properti

Permintaan Properti

Dari sisi permintaan, Tangerang tetap menjadi primadona nasional dengan pangsa pasar pencarian sebesar 14,8 persen.

Sementara itu, Jakarta Selatan mencatat kenaikan proporsi popularitas bulanan terbesar sebesar 1,2 persen.

R123_Owner-Sambil-Traveling-1280-x-305 (1)

Hal ini menandakan kembalinya minat masyarakat terhadap kawasan mapan di jantung ibu kota seiring koreksi harga tahunan Jakarta sebesar 1,7 persen yang menjadikannya lebih kompetitif.

Dalam laporan Flash Report Maret 2026 by Rumah123, jika dilihat dari median harga berdasarkan ukuran rumah, pasar menunjukkan segmentasi yang semakin jelas.

Pada Februari 2026, median harga tertinggi untuk masing-masing segmen tercatat sebagai berikut:

  •  ≤60 m²: Jakarta Pusat, median Rp741 juta (+25,4% YoY)
  •  61-90 m²: Jakarta Selatan, median Rp1,6 miliar (+7,4% YoY)
  •  91-150 m²: Yogyakarta, median Rp1,6 miliar (+7,5% YoY)
  •  151-250 m²: Medan, median Rp1,8 miliar (+12,5% YoY)
  •  ≥251 m²: Jakarta Pusat, median Rp21 miliar (+16,7% YoY)

Pergerakan ini menunjukkan bahwa permintaan pasar masih datang dari berbagai segmen, baik pembeli rumah pertama di segmen hunian kecil maupun pembeli di segmen rumah dengan luas bangunan besar.

Secara keseluruhan, Flash Report Maret 2026 by Rumah123 menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia masih berada dalam fase konsolidasi pada awal tahun.

Harga yang bergerak lebih moderat, suplai yang masih menyusut, serta pembeli yang semakin selektif membentuk dinamika pasar yang lebih rasional.

Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi calon pembeli untuk mempertimbangkan pembelian hunian pada momentum yang lebih stabil.

Baca juga:

Apakah Investasi Properti Masih Menguntungkan di 2026?

Semoga informasinya bermanfaat.

Simak data dan insight pasar yang kredibel melalui Flash Report Maret 2026 by Rumah123 untuk membantu masyarakat serta pelaku industri properti memahami dinamika pasar dan mengambil keputusan hunian secara lebih terukur karena bersama Rumah123 #RumahUntukSemua.

Gambar header: Unsplash/Artful Homes

{"attributes":{"type":"popupbanner","widget_type":"overlay","custom_background":"https:\/\/events.rumah123.com\/wp-content\/uploads\/sites\/38\/2025\/11\/Pop-Up-Banner-TERAS123.jpg","custom_link":"https:\/\/www.rumah123.com\/teras123\/?utm_source=panduan123&utm_medium=pop-upbanner&utm_campaign=teras123","first_open":"true","position":"overlay","pdp_id":[""]},"pdp":{"data":{"GetPropertiesByOriginID":{"properties":[]}}},"strapi":null,"baseUrl":"https:\/\/www.rumah123.com"}
{"attributes":{"type":"floatingbanner","widget_type":"overlay","custom_background":"https:\/\/events.rumah123.com\/wp-content\/uploads\/sites\/38\/2024\/06\/25100736\/Tebus-Rumah-03.gif","custom_link":"https:\/\/www.rumah123.com\/properti-penawaran-khusus\/?utm_source=panduan123&utm_medium=floatingbanner&utm_campaign=penawarankhusus","position":"floating","pdp_id":[""]},"pdp":{"data":{"GetPropertiesByOriginID":{"properties":[]}}},"strapi":null,"baseUrl":"https:\/\/www.rumah123.com"}