Ketahui Contoh Surat Hibah Tanah beserta Syarat dan Hukumnya


Mengetahui contoh surat hibah tanah memang penting, agar kita tidak keliru saat membuatnya. 


Selain surat, syarat dan hukum hibah juga perlu dipahami, supaya proses hibah berjalan sesuai aturan dan sah.


Kegiatan hibah-menghibahkan barang sebenarnya sudah cukup lumrah di masyarakat. 


Namun, tidak semua orang memahami jika kegiatan tersebut harus dilakukan sesuai aturan yang berlaku di Indonesia.


Perlu diingat, syarat dan hukum hibah sendiri telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. 


Agar tidak bingung saat melakukan hibah tanah, simak syarat dan hukum hibah yang sah di bawah ini.


Syarat-Syarat Melakukan Hibah Tanah


Sebelum melihat contoh surat hibah tanah, penting untuk mengetahui syarat sah dalam melakukannya.


Berbicara soal syarat, kita akan membaginya ke dalam dua perspektif, yakni sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, serta sesuai syariat dan ketentuan Islam.


Jika ditelaah dari perspektif perundang-undangan, syarat melakukan hibah tanah tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997. 


Di dalam peraturan tersebut disebutkan, bahwa:


“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”


Berdasarkan penjabaran di atas, kita dapat mengetahui bahwa proses hibah tanah beserta pembuatan surat perjanjian hibah harus dilakukan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) layaknya notaris.



Dalam peraturan yang berbeda – yakni Pasal 19967 KUHPerdata – juga disebutkan, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi agar proses hibah tanah berlangsung secara sah di mata hukum, misalnya:

1. Objek/barang yang dihibahkan harus memiliki manfaat bagi penerimanya.

2. Objek/barang yang dihibahkan harus memiliki bentuk dan tidak dalam proses perencanaan.

3. Objek/barang yang dihibahkan tidak terikat perjanjian, seperti gadai, harta gono-gini dan lain-lain.

4. Pemberi dan penerima hibah harus berusia dewasa sesuai ketentuan undang-undang di Indonesia.

5. Proses hibah dan pembuatan surat hibah tanah dilakukan di hadapan notaris atau PPAT.

6. Akta notaris asli akan disimpan oleh notaris yang sudah ditunjuk oleh kedua belah pihak.
7. Proses hibah harus disertai surat persetujuan anak kandung atau ahli waris pemberi hibah.


Itu syarat berdasarkan peraturan perundang-undangan, bagaimana dengan syarat hibah menurut Islam?


Tidak jauh berbeda, di dalam Islam proses hibah-menghibahkan barang sebenarnya diperbolehkan, asal proses tersebut berjalan sesuai syarat yang telah ditetapkan, seperti:

1. Pemberi dan penerima hibah harus berusia dewasa.

2. Hibah tidak boleh dilakukan kepada orang yang belum lahir.

3. Sehat akal, waras, dan sadar akan tindakan yang ia lakukan.

4. Hibah boleh dilakukan baik laki-laki maupun perempuan.

5. Perkawinan tidak menjadi penghalang seseorang menghibahkan barang.

6. Jika ingin memberi hibah kepada orang yang belum dewasa, proses hibah tersebut harus dilakukan (secara langsung tanpa perantara) di

7. hadapan orang tua yang bersangkutan.

8. Memberi hibah kepada orang yang tidak sehat akal dan pikirannya juga diperbolehkan, namun proses tersebut harus dilakukan oleh wali yang bersangkutan.


Hukum Pembatalan Perjanjian Hibah Tanah



Sebelumnya kita telah mengetahui, hukum melakukan hibah tanah menurut peraturan undang-undang dan syariat Islamnya nyatanya diperbolehkan. 


Bagaimana dengan hukum pembatalan perjanjian hibah?


Dalam prosesnya, suatu perjanjian kadang tidak berjalan sesuai rencana. 


Jika suatu hari perjanjian hibah yang telah dilakukan harus batal, maka proses pembatalan tersebut harus melewati proses pengadilan.


Bukan cuma itu, alasan pembatalan hibah juga penting diperhatikan. 


Ada dua hal yang memungkinkan pembatalan hibah terjadi, yakni syarat hibah tidak terpenuhi dan kewajiban yang tidak dilaksanakan.


Inilah salah satu alasan, pentingnya melihat contoh surat hibah tanah yang benar sebelum membuatnya. 


Sebab, jika proses hibah dilakukan asal-asalan, bukan tidak mungkin hibah tersebut menjadi tidak sah.


Ditambah lagi, perlu diketahui jika penerima hibah tanah juga memiliki kewajiban kepada pemberi hibah.


Baca juga: 
Mau Investasi Tanah? Simak Dulu Hal-Hal Penting Berikut Ini!


Orang tersebut wajib menafkahi pemberi hibah, jika kondisi ekonomi pemberi hibah sedang tidak baik. Bila ia mangkir, maka perjanjian hibah tanah yang dilakukan boleh dibatalkan.


Maka dari itu, pikirkan baik-baik sebelum kamu memberi atau menerima hibah, ya. 


Pastikan lagi, apakah kamu sanggup menerima tanggung jawab dan memenuhi syarat hibah tersebut atau tidak.


Contoh Surat Hibah Tanah yang Benar


Setelah mengetahui syarat dan hukum hibah, saatnya kamu melihat contoh surat hibah tanah yang benar secara hukum. 


Pada umumnya, format pembuatan surat hibah sama saja dengan surat perjanjian lainnya.


Meski begitu, tentu tidak mudah jika kamu belum pernah membuat sebuah surat hibah sebelumnya. 


Agar tidak bingung, berikut contoh surat hibah tanah yang bisa kamu contoh:


Demikian syarat, hukum, dan contoh surat hibah tanah yang bisa kamu jadikan referensi. 


Semoga ulasan di atas dapat membantumu dalam memahami perjanjian hibah secara sah, ya.


Selamat mencoba!


Author: 
Yuhan Al Khairi

Tambahkan Komentar