Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dan memiliki rumah pribadi tentunya menjadi impian setiap orang.


Namun dalam mewujudkan impian ini, kita sering terkendala oleh harga rumah yang terus melonjak dari waktu ke waktu.


Mengingat persoalan tersebut, sebuah solusi pun hadir ke tengah-tengah masyarakat. Kita bisa mewujudkan impian memiliki rumah pribadi meskipun bujet yang dimiliki terbatas, yaitu melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR).


Pengertian Kredit Pemilikan Rumah (KPR)?


Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan salah satu produk pembiayaan atau pinjaman dari perbankan untuk pembelian rumah. Selain untuk membiayai pembelian rumah, KPR juga bisa membiayai pembelian properti lain seperti apartemen, ruko, dan office space.


Melalui KPR, pihak bank memberikan pembiayaan atau pinjaman kepada pembeli rumah dengan skema tertentu.


Setiap bank menawarkan persentase skema pembiayaan yang berbeda-beda, tergantung kebijakan masing-masing bank yang tentunya mengacu kepada peraturan yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI).


Peraturan BI tentang KPR sendiri tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 21/13/PBI/2019.


Saat ini KPR di Indonesia tak hanya disediakan oleh perbankan, tapi juga oleh perusahaan pembiayaan (leasing). Biasanya, perusahaan pembiayaan ini menyalurkan pembiayaan atau pinjaman dari lembaga sekunder.


Jenis-jenis KPR


 

rumah merah kecil

 


Nah setelah memahami pengertian KPR, Anda sebaiknya memahami jenis-jenis KPR. Pasalnya KPR merupakan salah satu produk pembiayaan atau pinjaman dari perbankan yang banyak sekali turunannya.


KPR sendiri terbagi dalam dua jenis, yaitu KPR berdasarkan agunan dan KPR berdasarkan penerima dan tingkat suku bunga. Memahami turunan dari jenis-jenis KPR penting untuk mengetahui pilihan KPR terbaik yang cocok untuk Anda.


Jenis KPR Berdasarkan Agunan


Berdasarkan agunan atau jaminan yang harus diberikan oleh pembeli rumah kepada pihak bank, KPR dibagi menjadi dua, yaitu KPR pembelian dan KPR multiguna.


Lantas, bagaimana ketentuan kedua KPR ini?


1. KPR Pembelian


KPR pembelian merupakan salah satu jenis KPR yang paling umum digunakan oleh pembeli rumah. Dengan KPR ini, pembeli rumah menggunakan rumah yang dibeli sebagai agunan atau jaminan yang diberikan kepada pihak bank.


Apabila pembeli rumah tak dapat melunasi kredit rumahnya, maka otomatis rumah menjadi milik bank karena digunakan sebagai agunan atau jaminan. Namun, tentunya kita berharap rumah tak sampai menjadi milik bank ya.


2. KPR Multiguna atau Refinancing


KPR multiguna atau refinancing merupakan pengajuan kembali kredit kepada pihak bank dengan jaminan rumah yang sudah dimiliki. Dengan kredit multiguna, dilakukan sistem penilaian ulang terhadap rumah yang sudah dibeli dengan KPR pembelian.


Pihak bank akan melakukan penyesuaian terhadap KPR lama setelah menilai ulang rumah. KPR barunya akan didasarkan pada nilai baru rumah dan bunga kredit baru setelah dikurangi cicilan KPR pembelian yang sudah dibayarkan sebelumnya.


Jenis KPR Berdasarkan Penerima dan Tingkat Suku Bunga


Berdasarkan penerima dan tingkat suku bunga, KPR dibagi menjadi empat, yaitu KPR bersubsidi, KPR konvensional, KPR syariah, dan in-house KPR. Nah untuk memahami keempat jenis KPR ini, simak ulasan berikut ini.


1. KPR Subsidi


KPR subsidi adalah jenis KPR yang disediakan oleh pihak bank sebagai bagian dari program pemerintah. Tujuan KPR subsidi adalah menyediakan kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).


MBR bisa membeli rumah subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), artinya beli rumah dapat subsidi dari pemerintah.


Adapun syarat gaji minimal KPR subsidi, yaitu empat juta per bulan dan syarat gaji maksimal delapan juta per bulan.


2. KPR Konvensional


Anda sudah memahami pengertian KPR konvensional atau disebut juga dengan KPR non-subsidi? KPR konvensional merupakan produk pembiayaan atau pinjaman dari perbankan yang disediakan dengan persyaratan mengikuti ketentuan umum perbankan.


Selain itu, KPR konvensional memiliki tingkat suku bunga reguler yang ditetapkan masing-masing bank pemberi kredit. Yang membedakan KPR subsidi dan konvensional, yaitu jangka waktu kredit, perlindungan, persentase pembayaran, dan suku bunga.


3. KPR Syariah


Aturan main dalam KPR syariah tak jauh berbeda dengan aturan main KPR konvensional atau non-subsidi. Hanya saja, sistem KPR syariah menganut nilai-nilai dan prinsip-prinsip bertransaksi secara islami.


Meskipun begitu, KPR syariah tak hanya disediakan bagi mereka yang menganut agama Islam. Pemeluk agama lain pun boleh mengajukan KPR yang satu ini. KPR syariah menggunakan prinsip akad murabahah (jual beli) atau musyarakah mutanaqishah (kerjasama sewa).


4. In-house KPR


KPR jenis ini diberikan sebagai fasilitas yang disediakan oleh pengembang. Dengan in-house KPR, pembeli rumah melakukan kredit rumah tanpa bank, melainkan melalui developer atau kredit rumah langsung ke pemilik.


Serah terima rumah dalam in-house KPR umumnya dilakukan jika total pembayaran sudah di atas 80 persen. Jika bukan 80 persen, maka disesuaikan dengan perjanjian pembelian yang disahkan oleh notaris.


Syarat KPR


Tahukah Anda, ada sederet syarat KPR yang harus dipenuhi oleh pembeli rumah. Apa saja syarat KPR tersebut?



Nah secara umum ada dua syarat, yaitu Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Indonesia dan berusia minimal 21 tahun.


Selain syarat KPR secara umum, ada juga syarat KPR yang secara khusus dibuat bagi karyawan, wiraswasta, dan profesional. Apa saja syaratnya?

  1. Syarat KPR rumah untuk karyawan, yaitu memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun.

  2. Sementara syarat KPR rumah untuk wiraswasta, yaitu memiliki usaha yang telah berjalan minimal tiga tahun.

  3. Syarat KPR rumah untuk profesional, yaitu telah melakukan praktek selama 2 tahun.


Lalu, bagaimana prosedur pengajuan KPR?


Prosedur Pengajuan KPR


 

rumah modern berwarna putih

  1. Hal pertama yang harus dilakukan tentu saja memilih properti idaman. Silakan pilih rumah, apartemen, ruko, rukan, dan lain-lain yang Anda inginkan. Jangan lupa untuk melakukan pencariannya di situs jual beli rumah Rumah 123.

  2. Langkah selanjutnya adalah memilih bank penyedia KPR, lalu mengisi formulir pemesanan properti.

  3. Setelah itu, siapkan bujet untuk membayar biaya booking atau booking fee, serta bujet untuk membayar uang muka atau down payment (DP).

  4. Kemudian, Anda akan diharuskan mengisi formulir pengajuan kredit dan menyiapkan dokumen yang dibutuhkan.

  5. Jika sudah selesai, prosedur selanjutnya adalah menunggu pengajuan diproses oleh pihak bank. Pihak bank akan melakukan analisa permohonan kredit dan survei appraisal nilai aset properti.

  6. Jika pihak bank sudah menyetujuinya, akad kredit di depan notaris pun siap dilakukan. Nah ketika akad kredit dilaksanakan, biasanya nasabah akan diminta juga untuk melunasi biaya administrasi pengajuan KPR.

  7. Terakhir, Anda tinggal membayar cicilan KPR setiap bulannya selama masa tenor.


Kesalahan atau Kendala dalam Pengajuan KPR


Mengikuti prosedur pengajuan KPR tak selamanya lancar, tapi kadang-kadang ada saja kendala yang terjadi dalam prosesnya. Adapun kesalahan atau kendala yang sering terjadi dalam pengajuan KPR misalnya:


Mengajukan KPR ke Satu Bank Saja


Mengurus keperluan administrasi untuk pengajuan KPR ke satu bank saja sudah merepotkan, tapi justru inilah yang harus dipertimbangkan.


Mengajukan KPR ke satu bank saja tidak dianjurkan, lebih baik mengajukan ke beberapa bank agar ada cadangan jika ditolak.


Tak Mau Ambil Risiko


Banyak orang memilih untuk kredit rumah dengan jumlah cicilan bernilai paling rendah dan dalam jangka waktu paling pendek.


Padahal disarankan untuk berani ambil resiko dengan cara kredit rumah murah dalam jangka waktu panjang.


Turun Plafon


Pengertian turun plafon yaitu jumlah pembiayaan atau pinjaman yang dicairkan lebih kecil daripada yang diajukan. Penyebab turun plafon KPR biasanya karena mengajukan KPR untuk membeli rumah bekas.

 


Nah untuk mengatasi persoalan ini, Anda dianjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pihak marketing bank. Dengan menjalin komunikasi yang baik, nasabah bisa dibantu untuk mendapatkan KPR lebih mudah.


Pengajuan KPR Ditolak


Yang perlu diingat, pihak bank tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan alasan penolakan KPR, agar kebijakan umum setiap bank tidak disalahgunakan menjadi pemalsuan data.


Kurangnya kelengkapan administrasi biasanya menjadi faktor utama penyebab gagal KPR. Selain itu, ada juga faktor-faktor lainnya yang harus diperhatikan agar pengajuan KPR tak ditolak, misalnya:


1. Kebiasaan Menabung Tak Konsisten


Tahukah Anda, dalam proses pengajuan KPR kebiasaan menabung cukup mempengaruhi proses approval lho. Salah satu alasan KPR ditolak adalah jumlah uang yang ditabung setiap bulannya tak konsisten sehingga pihak bank menganggap keuangan Anda tak stabil.


2. Rekam Jejak Pembayaran Kredit Kurang Baik


Jika rekam jejak pembayaran kredit Anda buruk, pihak bank kemungkinan besar menolak pengajuan KPR. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya menjaga rekam jejak pembayaran kredit di bank mana pun, karena pihak bank bisa melakukan cross-check antarbank melalui BI.


Tips Mengajukan KPR


 

rumah klasik


KPR menawarkan jalan ‘ninja’ untuk mewujudkan impian memiliki rumah pribadi. Ya meskipun bisa dibilang jalan ninja, Anda harus tetap bersabar karena prosedur pengajuan KPR yang harus diikuti cukup rumit, ditambah lagi belum tentu diterima.


Setelah pengajuan diterima pun Anda harus bersiap menghadapi masa pembayaran cicilan yang lamanya bertahun-tahun.

 


Nah agar pengajuan KPR diterima oleh bank dan cicilannya tak memberatkan, tips berikut ini mungkin bisa Anda terapkan.


Jangan Takut Tenor Panjang


Tenor adalah jangka waktu pelunasan cicilan KPR biasanya berkisar antara 10, 15, hingga 30 tahun. Dalam kredit rumah, Anda tak perlu takut mengambil tenor panjang karena harga rumah akan terus meningkat dari tahun ke tahun.


Perhatikan Besar Cicilan


Selain jangan takut tenor panjang, Anda juga harus memperhatikan besar cicilan KPR agar tak menjadi beban di kemudian hari. Jangan sampai besar cicilan KPR ditambah cicilan lain yang di luar KPR melebihi 30 persen pendapatan per bulan.


Siapkan Uang Tunai


Uang tunai tak hanya dibutuhkan untuk membayar uang muka atau down payment (DP), tapi juga diperlukan untuk biaya administrasi, booking fee, biaya penilaian jaminan dan provisi kredit. Jika dihitung-hitung, uang tunai untuk keperluan tersebut jumlahnya tak sedikit lho.


Bandingkan KPR dan Pilih yang Paling Cocok


Hampir setiap bank menawarkan produk KPR, saking banyaknya pilihan kadang-kadang kita malah bingung.


Tapi jangan terburu-buru, ada baiknya Anda meluangkan waktu untuk membandingkan berbagai produk KPR tersebut.


Coba pertimbangkan untuk memilih produk KPR dari bank di mana Anda sudah menjadi nasabahnya.


Hal ini bisa memudahkan Anda jika seandainya terjadi masalah pada pengajuan KPR, dan yang pasti pilihlah yang sesuai dengan kondisi finansial.


Itu dia panduan lengkap tentang KPR, semoga bermanfaat ya!



Baca juga:

Tips membeli rumah pertama Anda