Jakarta Pusat Catat Kenaikan Minat Properti Tertinggi, Pencari Rumah Mulai Hitung Waktu Tempuh
Terakhir diperbarui 23 September 2026 · 6 min read · by Ilham Budhiman

Ringkasan Artikel:
- Jakarta Pusat mencatat kenaikan minat properti tertinggi secara nasional sebesar 0,9 persen YoY.
- Harga rumah sekunder nasional tumbuh 0,8 persen YoY, masih di bawah tingkat inflasi sebesar 3,2 persen.
- Makassar, Medan, dan Denpasar mencatat pertumbuhan harga rumah tertinggi, masing-masing sebesar 9,5 persen, 8,9 persen, dan 7,4 persen YoY.
Minat pencari properti di Jabodetabek semakin selektif dalam menentukan pilihan rumah berdasarkan harga, luas bangunan, dan lokasi.
Berdasarkan Flash Report September 2026 by Rumah123, Jakarta Pusat mencatat kenaikan proporsi popularitas pencarian properti tertinggi secara tahunan di Indonesia, sebesar 0,9 persen.
Kenaikan proporsi popularitas pencarian juga tercatat di Bogor sebesar 0,3 persen, serta Bekasi, Batam, dan Jakarta Utara yang masing-masing naik 0,2 persen.
Di sisi lain, Depok mengalami penurunan proporsi popularitas pencarian terbesar secara tahunan sebesar 0,5 persen, disusul Semarang dan Jakarta Timur yang masing-masing turun 0,4 persen.
Daftar Isi:
Perubahan Ketertarikan Pencari Properti

Indikator popularitas lokasi tersebut menggambarkan perubahan porsi ketertarikan pencari properti terhadap suatu wilayah dibandingkan wilayah lain pada periode yang sama.
Karena itu, data ini menunjukkan jumlah transaksi, tetapi menjadi sinyal awal mengenai lokasi yang semakin banyak atau semakin sedikit dipertimbangkan oleh pencari properti.
Head of Market Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan bahwa perubahan ketertarikan pencari properti tersebut menunjukkan konsumen semakin memperhitungkan nilai keseluruhan sebuah hunian, bukan hanya harga beli atau potensi kenaikan nilai properti.
“Pencari properti saat ini semakin menghitung nilai waktu. Mereka tidak hanya bertanya apakah harga rumahnya sesuai kemampuan, tetapi juga apakah lokasi tersebut membuat rutinitas sehari-hari lebih efisien. Waktu tempuh, akses terhadap tempat kerja dan fasilitas keluarga, serta biaya mobilitas menjadi pertimbangan yang makin nyata dalam proses memilih hunian,” ujar Marisa.
Area Penyangga Masih Memiliki Daya Tarik

Pada pergerakan bulanan, arah minat pencari properti terlihat lebih beragam.
Bogor mencatat kenaikan proporsi popularitas pencarian terbesar di Jabodetabek, sebesar 0,2 persen, disusul Jakarta Barat dan Bekasi yang masing-masing naik 0,1 persen.
Sementara itu, penurunan proporsi popularitas bulanan terbesar terjadi di Bandung Barat sebesar 0,7 persen, Denpasar sebesar 0,6 persen, dan Karawang sebesar 0,4 persen.
Menurut Marisa, data tersebut tidak berarti kawasan penyangga kehilangan daya tarik secara menyeluruh.
Pergerakan Bogor dan Bekasi menunjukkan bahwa wilayah penyangga dengan keseimbangan antara akses, fasilitas, dan harga masih menarik perhatian pencari properti.
Namun, konsumen kini semakin membedakan kawasan yang dapat mendukung kualitas hidup sehari-hari dengan kawasan yang membutuhkan kompromi perjalanan lebih besar.
“Yang dicari konsumen bukan semata-mata pusat kota atau pinggiran kota. Mereka mencari lokasi yang paling sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Dalam konteks ini, rumah sekunder yang lebih compact, apartemen, atau properti yang membutuhkan renovasi di lokasi strategis dapat menjadi alternatif yang relevan bagi sebagian pencari rumah,” kata Marisa.
Baca juga:
Rata-Rata Kenaikan Harga Rumah per Tahun yang Perlu Diketahui Investor Properti
Pertumbuhan Harga Rumah Sekunder

Di tingkat tahunan, Bogor memimpin pertumbuhan harga rumah sekunder di Jabodetabek sebesar 3,2 persen, diikuti Bekasi 1,9 persen, Depok 0,4 persen, dan Jakarta 0,2 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan minat pencarian di wilayah inti Jakarta belum otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan harga tercepat.
Pasar properti Jabodetabek bergerak dengan karakter yang berbeda di setiap kota dan koridor hunian.
Secara nasional, pertumbuhan harga rumah sekunder juga menunjukkan ketimpangan yang lebar antarkota.
Makassar mencatat kenaikan harga tahunan tertinggi sebesar 9,5 persen, diikuti Medan 8,9 persen dan Denpasar 7,4 persen.
Ketiga kota tersebut tumbuh jauh di atas rata-rata nasional sebesar 0,8 persen.
Sementara itu, Jakarta, Surabaya, dan Surakarta masing-masing hanya mencatat pertumbuhan 0,2 persen, 0,3 persen, dan 0,1 persen.
VP of Marketing Rumah123, Firman Pamungkas, mengatakan ketimpangan pertumbuhan antarkota menunjukkan bahwa rata-rata nasional tidak cukup untuk memahami kondisi pasar properti secara utuh.
“Pasar properti Indonesia tidak bergerak serempak. Minat pencarian, harga, serta pasokan dapat bergerak berbeda di setiap kota. Jakarta Pusat yang memimpin pertumbuhan perhatian pencari properti menunjukkan kuatnya nilai lokasi di area inti, sementara pertumbuhan harga tertinggi di Makassar, Medan, dan Denpasar menunjukkan bahwa fundamental pasar lokal tetap menjadi penggerak utama,” ujar Firman.
Beberapa Kota Mengalami Penurunan Harga
Meskipun 11 dari 13 kota dalam indeks mencatat kenaikan harga secara tahunan pada Agustus 2026, delapan kota di antaranya justru mengalami penurunan harga secara bulanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar rumah sekunder tengah memasuki fase normalisasi.
Harga tidak turun secara serentak, tetapi pertumbuhannya tidak lagi merata dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal.
Konteks keterjangkauan juga menjadi penting. Dengan inflasi tahunan sebesar 3,2 persen, pertumbuhan harga rumah sekunder nasional sebesar 0,8 persen masih berada 2,4 poin persentase di bawah kenaikan biaya hidup.
Pada saat yang sama, volume suplai rumah sekunder turun 0,5 persen secara bulanan dan stagnan secara tahunan.
Dalam kondisi pasar seperti ini, pencari properti memiliki alasan lebih besar untuk membandingkan pilihan berdasarkan lokasi, harga, serta kebutuhan hidup jangka panjang, bukan semata-mata mengejar luas rumah atau harga terendah.
Baca juga:
Analisis Pasar Properti: Pentingnya Memanfaatkan Data sebelum Mengambil Keputusan Bisnis
Tangerang Dominasi Porsi Pencarian Properti
Tangerang masih menjadi kota dengan proporsi popularitas pencarian properti terbesar pada Agustus 2026, sebesar 14,6 persen.
Jakarta Selatan berada di posisi berikutnya dengan 13,0 persen, disusul Jakarta Barat sebesar 10,4 persen.
Data ini menunjukkan bahwa perhatian pencari properti masih terkonsentrasi pada sejumlah pasar utama di Jabodetabek.
“Bagi pelaku industri, data ini menjadi pengingat bahwa produk properti tidak cukup hanya menawarkan ruang yang lebih besar atau harga yang lebih rendah. Konsumen semakin ingin mengetahui konsekuensi nyata dari setiap pilihan lokasi. Karena itu, pengembang, pemilik properti, dan investor perlu membaca kebutuhan pasar secara lebih lokal dan lebih spesifik,” kata Firman.
Baca juga:
6 Cara Membaca Tren Pasar Properti agar Tidak Salah Ambil Keputusan Investasi
***
Melalui data pasar Flash Report Rumah123 dan pilihan properti yang tersedia di platformnya, Rumah123 membantu masyarakat membandingkan harga, lokasi, tipe properti, serta karakter kawasan untuk mengambil keputusan hunian yang lebih terinformasi dan sesuai kebutuhan jangka panjang.
Untuk informasi dan pilihan properti terbaik dari berbagai official developer, kunjungi Rumah123 sekarang juga.
Semoga informasinya bermanfaat.
FAQ
Kota mana yang mencatat kenaikan minat properti tertinggi?
Bagaimana pertumbuhan harga rumah sekunder secara nasional?
Kota mana yang mencatat pertumbuhan harga rumah tertinggi?
Apakah minat pencari properti di Jabodetabek meningkat?
Mengapa lokasi semakin penting bagi pencari properti?
Kota mana yang memiliki proporsi pencarian properti terbesar?


