Mengenal Floating Rate KPR dan Bedanya dengan Fixed Rate
Terakhir diperbarui 27 April 2026 · 4 min read · by Septian Nugraha
Ringkasan Artikel:
- Floating rate adalah suku bunga KPR yang berubah mengikuti kondisi pasar atau acuan dari Bank Indonesia.
- Cicilan KPR dengan floating rate bisa naik atau turun sesuai perubahan suku bunga.
- Floating rate berpotensi lebih ringan saat bunga turun, tetapi berisiko naik saat bunga meningkat.
- Contoh kasus menunjukkan cicilan Rp1 juta dapat naik menjadi Rp1,3 juta saat bunga naik.
- Floating rate berbeda dengan fixed rate yang cicilannya tetap dan lebih stabil.
Floating rate adalah suku bunga yang dapat berubah-ubah mengikuti kondisi pasar atau acuan tertentu.
Artinya, besaran bunga yang harus dibayar tidak tetap dan bisa naik atau turun selama periode pinjaman.
Floating rate sering digunakan pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama setelah masa bunga tetap (fixed rate) berakhir.
Simak apa itu floating rate KPR mulai dari pengertian hingga bedanya dengan suku bunga fixed rate.
Daftar Isi:
Apa Itu Floating Rate KPR?
Menurut Bank Indonesia, floating rate adalah suku bunga yang mengacu pada perubahan suku bunga pasar atau suku bunga acuan, seperti BI Rate atau BI 7-Day Reverse Repo Rate.
Artinya, jika suku bunga acuan naik, bunga pinjaman juga ikut naik.
Sebaliknya, jika suku bunga acuan turun, bunga pinjaman bisa ikut turun.
Floating rate diterapkan oleh bank untuk menyesuaikan risiko pasar dan kondisi ekonomi sehingga besaran cicilan bisa berubah dari waktu ke waktu.
Simulasi Kemampuan KPR
Cari tahu kemampuan cicilan KPR berdasarkan penghasilan.
Apa Kelebihan dan Kekurangan Floating Rate KPR?
Kelebihan Floating Rate
- Potensi bunga lebih rendah saat suku bunga pasar turun
- Menyesuaikan kondisi ekonomi secara langsung
- Memberi peluang cicilan lebih ringan di periode tertentu
- Cocok untuk pinjaman jangka panjang
- Lebih fleksibel dibanding bunga tetap
Kekurangan Floating Rate
- Cicilan tidak tetap karena mengikuti perubahan suku bunga pasar
- Risiko cicilan meningkat saat suku bunga acuan dari Bank Indonesia naik
- Kenaikan bunga lebih sering terjadi dibanding penurunan, sehingga beban bisa bertambah
- Sulit membuat perencanaan keuangan jangka panjang
- Berpotensi menyebabkan kesulitan pembayaran jika cicilan naik drastis
- Membutuhkan dana cadangan untuk mengantisipasi kenaikan bunga
Baca juga:
Cara Menghitung KPR yang Mudah sebelum Ajukan Kredit Rumah
Bagaimana Contoh Kasus KPR Floating Rate?
Misalnya, pada awal kredit, suku bunga KPR ditetapkan sebesar 10% dengan cicilan sekitar Rp1 juta per bulan.
Setelah dua tahun, terjadi kenaikan suku bunga acuan dari Bank Indonesia sehingga bunga KPR berubah menjadi 13%.
Akibatnya, cicilan bulanan juga ikut meningkat. Pada tahun ketiga, cicilan yang sebelumnya Rp1 juta naik menjadi sekitar Rp1,3 juta per bulan.
Contoh ini menunjukkan bahwa pada sistem floating rate, perubahan suku bunga akan langsung memengaruhi jumlah cicilan yang harus dibayar.
Baca juga:
Cara Menghitung Kemampuan Beli Rumah dari Gaji dengan Mudah
Apa Perbedaan Floating Rate dan Fixed Rate KPR?
Selain floating rate atau suku bunga berjalan, ada pula suku bunga fixed rate pada skema KPR.
Perbedaan floating rate dan fixed rate pada KPR terletak pada stabilitas bunga dan cicilan.
Berikut adalah perbedaannya.
| Floating Rate | Fixed Rate | |
|---|---|---|
| Arti | Suku bunga berubah mengikuti pasar atau dari BI | Suku bunga tetap dalam periode tertentu |
| Cicilan | Bisa naik atau turun sesuai perubahan bunga | Tetap dan stabil selama periode berlaku |
| Risiko | Lebih tinggi karena bunga bisa naik | Lebih rendah karena bunga tidak berubah |
| Keuntungan | Berpotensi lebih murah saat bunga turun | Mudah direncanakan dan lebih aman |
Fixed vs Floating Rate KPR, Mana yang Lebih Menguntungkan?
Fixed rate lebih menguntungkan bagi yang menginginkan kepastian cicilan.
Dengan bunga yang tetap, perencanaan keuangan menjadi lebih stabil dan aman, terutama untuk masa awal KPR.
Sementara itu, floating rate lebih menguntungkan ketika suku bunga sedang turun.
Dalam kondisi ini, cicilan bisa menjadi lebih ringan dibandingkan fixed rate.
Namun, pada sistem floating rate, suku bunga dari Bank Indonesia dapat berubah sewaktu-waktu sehingga cicilan juga bisa meningkat jika kondisi pasar naik.
Kesimpulan:
- Fixed rate cocok untuk stabilitas dan keamanan finansial
- Floating rate cocok untuk peluang cicilan lebih rendah, namun dengan risiko perubahan
Bunga KPR Terbaru
Beli properti impian dengan memilih produk KPR terbaik di Rumah123FAQ
Apa itu floating rate KPR?
Apa keuntungan floating rate?
Apa risiko floating rate?
Apa beda floating rate dan fixed rate?
***
Demikianlah ulasan mengenai bunga floating rate KPR yang penting untuk diketahui.
Punya pertanyaan lain seputar properti? Yuk, diskusikan di Teras123!
Semoga bermanfaat.





