Sebelum Tergiur Promo KPR, Perhatikan Biaya Lain, di Luar Cicilan

biaya diluar cicilan promo kpr

 

Saat ini lembaga perbankan penyedia program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) banyak yang menawarkan promo menarik.

 

Penawaran promo KPR tersebut tentunya dapat membuat pembeli rumah lebih hemat bujet.

 

Kendati demikian, jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli rumah dijual tetap saja tidak sedikit.

 

Pasalnya, banyak biaya di luar cicilan KPR yang harus dibayarkan di awal pembelian rumah.

 

Jadi, sebelum tergiur dengan promo KPR, ada baiknya untuk mengetahui biaya apa saja yang harus ditanggung oleh pembeli rumah.

 

Biaya di Luar Cicilan KPR

Biaya di Luar Cicilan KPR

 

Dengan adanya program KPR, kamu dapat membeli rumah dengan cara dicicil atau kredit.

 

Nah, di awal pembelian, biaya yang sering digembar-gemborkan adalah biaya down payment (DP) alias uang muka.

 

Padahal bukan hanya itu saja, tetapi ada biaya lain yang memerlukan dana tidak sedikit, di antaranya sebagai berikut.

 

Biaya Booking

Biaya di luar cicilan KPR yang pertama adalah biaya booking yang bersifat mengikat penjual dan pembeli rumah.

 

Biaya booking ini menjadi salah bukti keseriusan calon pembeli rumah untuk membeli hunian yang dijual.

 

Biaya booking yang disyaratkan kepada calon pembeli rumah biasanya berbeda-beda tergantung developer dan jenis propertinya.

 

Nah, berkaitan dengan biaya di luar cicilan KPR yang satu ini, ada satu hal yang perlu digarisbawahi.

 

Ketika biaya booking telah diberikan, tetapi kamu tidak jadi membeli rumah, ada kemungkinan biaya tidak dapat kembali.

 

Sehingga, calon pembeli rumah harus mengambil langkah serius saat berencana untuk membeli properti melalui program KPR.

 

Baca juga:

Mengenal KPR dan Jenis-Jenis KPR

 

Uang Muka

Telah disinggung sebelumnya bahwa biaya uang muka paling sering digembar-gemborkan dibanding biaya lain.

 

Biasanya uang muka dibayarkan sebelum dilakukan serah terima dari penjual kepada pembeli rumah.

 

Besarnya dihitung dari persentase jumlah tertentu yang ditentukan oleh developer atau perbankan penyedia program KPR.

 

Dalam proses transaksi uang muka, biasanya akan diikuti oleh penandatanganan surat perjanjian jual beli rumah.

 

Isi dokumen biasanya meliputi harga, cara pembayaran, sisa pembayaran, tanggal pelunasan dan lain sebagainya.

 

Sama seperti biaya booking, apabila pembeli rumah membatalkan pembeliannya, ada kemungkinan uang muka hangus.

 

Biaya Notaris

Peran notaris dalam proses jual beli rumah sangat penting, karena notaris lah yang menentukan keabsahan proses transaksi.

 

Sehingga, pembeli rumah harus menyediakan dana di luar cicilan KPR untuk biaya notaris.

 

Biaya notaris dalam transaksi jual beli rumah ini meliputi biaya cek sertifikat properti yang diperjualbelikan.

 

Tujuannya agar sertifikat diketahui statusnya, sedangkan besar biaya cek sertifikat tergantung kebijakan kantor pertanahan setempat.

 

Adapun biaya lain terkait kenotariatan, yaitu validasi pajak, surat keterangan, akta jual beli (AJB), bea balik nama (BBN) dan lain-lain.

 

Rata-rata jumlah yang diperlukan untuk biaya ini adalah Rp5 juta, tetapi tetap tergantung pada notaris bersangkutan.

 

Biaya Provisi

Biaya Provisi KPR

 

Biaya provisi adalah biaya di luar cicilan KPR yang dibebankan kepada pembeli rumah untuk dibayarkan kepada pihak bank.

 

Istilah provisi mungkin kurang familiar di telinga masyarakat, karena kita lebih mengenalnya dengan istilah administrasi.

 

Biaya yang satu ini hanya perlu dibayarkan selama satu kali pengajuan program KPR.

 

Jadi saat pinjaman disetujui, pemotongan langsung terjadi saat dana pinjaman cair.

 

Nah, biasanya biaya provisi yang harus dibayarkan sebanyak 1% dari total pokok kredit KPR.

 

Jika biaya pokok kredit Rp500 juta, maka biaya provisi yang harus dibayarkan yaitu Rp5 juta.

 

Biaya Perolehan Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Pajak yang ditanggung oleh pembeli rumah dijelaskan dalam pembahasan tentang BPHTB.

 

BPHTB sendiri merupakan biaya yang ditanggung berdasarkan kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli rumah.

 

Pajak yang ditanggung oleh pembeli rumah ini mirip dengan PPh yang ditanggung oleh penjual.

 

Lalu, untuk menghitungnya ada beberapa komponen yang harus diketahui, salah satunya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

 

Nah, yang dimaksud objek di sini tentu saja adalah rumah yang diperjualbelikan, sedangkan subjeknya adalah pembeli.

 

Adapun besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggung BPHTB yaitu 5% dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

 

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

 

Selain BPHTB, biaya lain yang dibebankan kepada pembeli rumah adalah biaya Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

 

PPN adalah pungutan yang dibebankan atas transaksi jual beli barang dan jasa yang dilakukan oleh wajib pajak.

 

Biaya ini memang dikenakan kepada pembeli rumah, tetapi yang wajib memungut dan menyetorkannya adalah penjual. 

 

Properti yang dikenai PPN nilainya di atas Rp36 juta dan besar PPN yang ditetapkan adalah 10% dari harga properti tersebut.

 

PPN hanya diberlakukan kepada properti primary, artinya yang dijual oleh pengembang kepada konsumen.

 

Sementara itu, properti secondary adalah properti yang dijual oleh perorangan sehingga tidak dikenai PPN.

 

Itulah biaya di luar cicilan KPR yang harus dikeluarkan oleh pembeli rumah, ya jumlahnya memang tidak sedikit.

 

Sehingga, pembeli rumah harus mempersiapkan rencana beli rumah secara matang meskipun ada promo KPR menarik.

 

Apabila persiapanmu sudah matang, carilah rumah idaman hanya di situs jual beli rumah123.com dan temukan penawaran terbaik.

 

 

 

Author:
Miyanti

Tambahkan Komentar