Penting! Ketahui 5 Jenis Sertifikat Tanah sebelum Membeli Lahan

jenis sertifikat tanah


Sebelum beli sebidang lahan, penting untuk mengetahui jenis sertifikat tanah yang berlaku di Indonesia. 


Hal ini dimaksudkan, agar sebagai konsumen kita tidak tertipu saat melakukan transaksi jual-beli tanah.


Dengan adanya sertifikat ini, kamu dapat mengetahui hak kepemilikan yang sah atas sebidang lahan. 


Lebih dari itu, sertifikat tanah juga bisa menjadi acuan terhadap legalitas lahan yang akan kamu beli.


Untuk kamu yang ingin mendirikan bangunan atau mengajukan pinjaman ke bank, sertifikat tanah juga sangat diperlukan. 


Meski begitu, perlu diingat jika sertifikat tanah terdiri atas beberapa macam.


Masing-masing sertifikat tersebut juga memiliki fungsi dan kegunaannya tersendiri. 


Agar tidak keliru saat bertransaksi jual-beli lahan, berikut lima jenis sertifikat tanah yang perlu kamu ketahui.


5 Jenis Sertifikat Tanah yang Sah di Indonesia

 

  • Sertifikat Hak Milik (SHM)

 

sertifikat tanah


Bagi kamu pemegang jenis sertifikat tanah SHM atau Sertifikat Hak Milik, kamu patut berbangga hati. 


Pasalnya, jenis surat yang satu ini merupakan sertifikat tertinggi dan paling kuat di mata hukum.


Seperti namanya, SHM menunjukkan bukti kepemilikan yang sah dan valid terhadap sebidang tanah. 


Para pemilik SHM memiliki hak penuh untuk mengelola, serta memanfaatkan tanah sesuai yang diinginkan.


Jika sewaktu-waktu terjadi sengketa, pemilik SHM-lah yang paling berhak atas tanah tersebut. 


Selain itu, jenis sertifikat ini juga sangat disenangi pihak bank dan bisa jadi jaminan kuat untuk pengajuan kredit.

 

  • Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU)

 

Jika kamu memiliki jenis sertifikat HGU, dapat dipastikan jika status tanah tersebut adalah milik negara.


Hak Guna Usaha atau HGU sendiri diberikan oleh pemerintah bagi individu ataupun badan usaha untuk mengelola sebidang tanah dengan tujuan tertentu, seperti peternakan, perikanan, dan sebagainya.


Luas tanah yang dapat dijadikan sebagai HGU minimal 5 hektare dan maksimal 25 hektare. 


Untuk jangka waktu penggunaan HGU maksimal 35 tahun dan dapat diperpanjang sampai dengan 25 tahun.


Kendati demikian, sertifikat yang satu ini dapat dialihpihakkan. 


Namun, proses tersebut harus dilakukan selambat-lambatnya 2 tahun sebelum masa pemanfaatan lahan berakhir.

 

  • Sertifikat Hak Pakai

 

Selain HGU, ada pula jenis sertifikat tanah hak pakai. 


Sertifikat ini menunjukkan hak atas penggunaan atau mengambil hasil lahan, yang dimiliki negara atau pihak lain kepada pihak kedua lewat sebuah perjanjian.


Meski mirip dengan sewa-menyewa, namun kategori sertifikat ini nyatanya berbeda. 


Hak pakai diberikan selama jangka waktu tertentu dan tidak boleh disertai syarat-syarat yang mengandung unsur pemerasan.

 

  • Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)

 

Bukan cuma bangunan, SHGB juga tergolong ke dalam jenis sertifikat tanah. 


Para pemegang SHGB biasanya memanfaatkan lahan tersebut untuk mendirikan bangunan atau keperluan lainnya.


Pemberian hak tersebut juga dibatasi jangka waktu tertentu, biasanya sertifikat hak guna bangunan akan habis selama 30 tahun dan dapat diperpanjang kembali untuk waktu 20 tahun ke depan.


Pada umumnya, lahan dengan status SHGB banyak dimanfaatkan oleh developer untuk membangun apartemen atau perumahan


Jarang sekali ada individu membeli tanah SHGB untuk keperluan hunian.


Kendari demikian, salah satu keunggulan dari sertifikat adalah dapat diberikan ke siapa saja. 


Berbeda dengan SHM, jenis sertifikat SHBG dapat dimiliki oleh pribumi (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA).

 

  • Sertifikat Tanah Berbentuk Girik

 

Perlu diketahui, girik sendiri sebenarnya bukan tergolong jenis sertifikat tanah. 


Girik adalah bukti surat pembayaran pajak atas lahan, yang menjadi bahwa seseorang telah menguasai sebidang lahan.


Lahan dengan status girik adalah lahan bekas hak milik adat, yang belum didaftarkan di Badan Pertanahan Nasional (BPN). 


Dibanding jenis sertifikat lain, status hukum girik tergolong cukup rendah/tidak kuat.


Apabila kamu tertarik membeli tanah girik, pastikan jika nama yang tertera pada dokumen girik serupa dengan yang tertera pada akta jual beli. 


Hal ini untuk menghindari konflik yang terjadi di masa depan.


Jika berniat meningkatkan status tanah girik menjadi SHGB atau SHM, maka kamu perlu mengumpulkan segala dokumen terkait, yang menunjukkan sejarah kepemilikan atas tanah tersebut.


Nah,
itu tadi beberapa jenis sertifikat tanah yang penting diketahui sebelum melakukan transaksi jual-beli lahan. 


Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat untuk kita semua, ya.


Selamat membeli properti impian!


Author:
Yuhan Al Khairi

Tambahkan Komentar