OK

Mengenal PPN Rumah dan Perbedaannya dengan PPh

28 Nopember 2022 · 4 min read · by Septian Nugraha

ppn rumah

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan komponen yang ada dalam transaksi jual-beli rumah.

Rumah termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP). Maka itu, setiap proses jual-beli rumah pastilah dikenakan pajak.

Selain PPN, ada pula Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yang dikenakan dalam jual-beli rumah.

Terkait PPN rumah, pungutan ini dibebankan kepada pembeli dengan tarif 11% dari harga hunian.

Ketentuan tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Patut diketahui bahwa besaran tarif PPN sebesar 11% ini berlaku hingga 31 Desember 2024.

Setelah itu, per 1 Januari 2025, tarif PPN atas penjualan rumah naik menjadi 12%, sama seperti tarif PPN yang dibebankan kepada BKP lainnya.

Perhitungan PPN Rumah

perhitungan ppn rumah

Cara menghitung PPN sejatinya cukup mudah, rumus perhitungannya adalah 11% x harga jual rumah.

Misalnya, Udin membeli hunian di Samira Regency Bekasi seharga Rp672,000,000.

Maka PPN yang harus dibayarkan Udin adalah Rp 73,920,000, yang merupakan hasil perhitungan dari 11% x Rp672,000,000.

Pada prosesnya, PPN dibayarkan pembeli kepada pengembang. Nantinya, developer yang akan menyetorkan pungutan tersebut ke negara.

Sebagai tambahan informasi, PPN rumah hanya dikenakan membeli rumah baru atau hunian berstatus primary property.

Sementara ketika membeli rumah bekas atau secondary property, pembeli tidak akan dikenakan pajak tersebut.

Jenis-Jenis Rumah yang Tidak Terkena PPN

jenis jenis rumah yang bebas ppn

Selain rumah second, beberapa jenis rumah pun tidak dikenakan pajak pertambahan nilai, meski statusnya primary properti.

Rumah yang bebas PPN sebesar 11% adalah hunian dengan harga jual di bawah Rp300 juta.

Mengacu pada ketentuan tersebut, ada dua jenis rumah yang transaksi jual-belinya tidak dikenakan PPN, yakni rumah sederhana dan sangat sederhana, termasuk perumahan subsidi.

Kriteria mengenai rumah sederhana dan sangat sederhana yang bebas PPN, diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Republik Indonesia Nomor 113/PMK.10/2019.

Disebutkan bahwa rumah sederhana dan sangat sederhana adalah:

  • Rumah dengan luas bangunan tidak lebih dari 36 meter persegi dan luas tanah tidak kurang dari 60 meter persegi.
  • Memiliki harga jual yang tidak melebihi batasan harga jual dengan ketentuan bahwa batasan harga jual didasarkan pada kombinasi zona dan tahun yang diatur dalam PMK.
  • Merupakan rumah pertama yang dimiliki, digunakan sendiri sebagai tempat tinggal, dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 tahun sejak dimiliki.
  • Perolehannya secara tunai maupun dibiayai melalui fasilitas kredit bersubsidi maupun tidak bersubsidi atau melalui pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Baca juga:

Mengenal Pajak Rumah sebelum Beli Hunian Idaman

Selain itu dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI no. 48 Tahun 2020, disebutkan juga beberapa jenis hunian yang bebas dari PPN, seperti:

  • Rumah susun sederhana
  • Pondok boro
  • Asrama mahasiswa dan pelajar
  • Rumah pekerja dan bangunan untuk korban bencana alam nasional.

Nah, jika kamu sedang mencari hunian dengan harga di bawah Rp300 juta, ada banyak pilihannya di rumah123, salah satunya adalah Mustika Village Sukamulya.

Perbedaan PPN dan PPh

perbedaan ppn dan pph

Seperti telah disebutkan di atas, selain PPN ada pula jenis pajak lainnya yang dikenakan dalam transaksi jual-beli rumah. Salah satunya adalah PPh atau pajak penghasilan.

Menariknya, masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami perbedaan antara PPN dan PPh.

Ada banyak aspek yang menjadi pembeda di antara kedua jenis pajak itu. Mulai dari objek, subjek hingga tarif, berikut ulasan lengkapnya.

Objek

PPN dikenakan terhadap setiap proses produksi maupun distribusi, sementara PPh dikenakan terhadap setiap penghasilan yang didapatkan oleh wajib pajak.

Subjek

Subjek PPN adalah konsumen yang menikmati atau membeli barang kena pajak, sedangkan subjek PPh adalah penjual yang mendapatkan hasil dari transaksi jual-beli.

Patut diketahui bahwa tidak hanya dalam transaksi jual beli, PPh juga dikenakan dalam transaksi sewa-menyewa rumah.

Hal tersebut tercantum dalam Pasal 4 ayat 2 UU 36/2008. Disebutkan, salah satu penghasilan yang didapatkan dari hasil persewaan tanah dan/atau bangunan.

Tarif

Perbedaan lain di antara PPN dan PPh adalah pengenaan tarifnya.

Seperti diketahui, PPN dikenakan sebesar 11%. Adapun PPh dikenakan sebesar 10% persen dari nilai transaksi.

Itulah pembahasan mengenai PPN rumah dan perbedaannya dengan PPh.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Baca juga:

Rincian Pajak Jual Beli Rumah Bekas yang Harus Diketahui